https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   29 September 2021 - 17:23 wib

Dana 'Raksasa' Program Keterampilan Jangan 'Ngasal'

Viral
berita-headline

Foto Istimewa

Potret pendidikan wilayah Aglomerasi Jabodetabek yang notabene tak jauh dari pusat pemerintahan di republik ini, dibayangi degradasi pendidikan.

Seperti Ibu Kota. Data dari dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta menunjukan angka putus sekolah Sekolah Dasar pada tahun 2018-2019 sebanyak 0,04% dan 2019-2020 0,18%. Putus Sekolah Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2018-2019 0,09% dan 2019-2020 0,27%.

Kemudian di kota Depok dari data Badan Pusat Statistik, presentase partisipasi anak yang tidak sekolah di kelompok umur 16-18 mengalami kenaikan sebesar 2,82 persen pada tahun 2019. 

Secara keseluruhan, presentase partisipasi anak yang lulus dari bangku SMA/SMK dan sederajat pun mengalami penurunan pada tahun yang sama.

Hal lainnya seperti kondisi di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Banyak anak-anak memilih bekerja ketimbang sekolah.

Padahal pendidikan adalah premis kemajuan di setiap masyarakat maupun keluarga. Tetapi tak cukup hanya pendidikan jika tanpa dibarengi dengan keterampilan mumpuni.

Soal Keterampilan Negara Lamban dan Absen


Tahun ini besaran anggaran pendidikan mencapai Rp 508,1 triliun, atau 20% dari belanja APBN 2020 yang nilainya Rp 2.540,4 triliun.

Dari dana 'raksasa' itu cara membuat pendidikan lebih efektif dibarengi keterampilan bisa dibiayai. Ditambah intens membangun komunikasi dan kerjasama dengan sekolah-sekolah.

Membuat kursus-kursus pendidikan berbasis keterampilan sesuai demografi dan berkelanjutan. Sehingga keterampilan yang dipelajari dapat diterapkan ketika sang anak berada dalam dunia kerja.

"Selalu begini negara kita ini membuat program asalkan ada kegiatannya aja, enggak ada master plan, enggak ada studi kelayakan," ujar Pengamat Pendidikan Karim Suryadi, kepada Inilah.com, Rabu (29/9/2021).

Fenomena paradoks pendidikan di kota besar itu, mestinya menyadarkan pemerintah mulai awas. Persoalan ini mesti segera dituntaskan dari hulu ke hilir.

Bila dibiarkan, efeknya bisa menimbulkan tindakan kriminal. Akibat pengangguran terus bertambah dalam jumlah banyak.

"Misalnya di Bantargebang itu ada sampah mungkin  diolah lagi menjadi industri kan banyak bisa dimanfaatin. Jangan hanya kursus-kursus yang enggak jelas," tutup dia.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Menuju Digitalisasi Sekolah di Pelosok Garut

Pandemi Covid-19 telah melanda Indonesia lebih dari satu tahun. Hal yang hangat perbincangkan dan
berita-headline

Viral

Disdik DKI: 1.509 Sekolah Siap Gelar PTM Terbatas Senin Besok

Dinas Pendidikan DKI Jakarta menyebut sebanyak 1.509 sekolah siap menggelar Pembelajaran Tatap Mu
berita-headline

Viral

Paradoks Pendidikan dan Pandemi di Perkotaan

Efek pandemi telah menghantam banyak pihak, tetapi golongan miskin yang paling banyak mendapat be
berita-headline

Viral

1.600 Anak Meninggal karena Covid-19, PTM Harus Terapkan Prokes Ketat

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) kini sudah mulai diberlakukan. Meski dilakukan secara terbatas di t
berita-headline

Viral

Luhut: Kita Lebih Takut Generasi Pendidikan Masa Depan Bodoh

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan khawatir