https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   29 September 2021 - 17:46 wib

Kota Besar Sedang Digerogoti Kejatuhan Pendidikan

Viral
berita-headline

Foto Istimewa

Permasalahan merosotnya pendidikan sedang melanda wilayah pinggiran kota besar. Banyak anak-anak belum terlayani pendidikannya dengan maksimal.

Persoalan digerogoti 'jatuhnya' pendidikan semakin kompleks tatkala fungsi dan peran sekolah hanya sekadar memenuhi kognitif level tertentu sementara persoalan keterampilan lemah.

Padahal salahsatu keamanan nyata mesti dimiliki seseorang saat memasuki dunia kerja selain pengetahuan adalah keterampilan.

Persoalan lemahnya keterampilan di bangku sekolah menjadi alasan sebagian orang tua di pinggiran kota besar, mulai pesimis dengan eksistensi sekolah.  

Sang anak hanya sebatas di bangku Sekolah Dasar (SD) untuk bisa baca, tulis, dan berhitung. Tak melanjutkan bangku Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Bagi orang tua yang sedang terhempit perekonomian menyuruh anak bekerja lebih penting daripada sekolah. Pasalnya bangku pendidikan tak menghasilkan keterampilan yang berarti untuk menunjang kecakapan hidup.

Ditambah lagi banyaknya usaha home industri yang tak mempedulikan ijazah sebagai syarat kerja membuat gelombang anak putus sekolah semakin menggurita.

"Di pinggiran kan banyak pabrik yang enggak mau terima yang sekolah tinggi-tinggi karena bebankan gajian. Jadi cukup bisa bolak balik se-sederhana itu," kata Pengamat Pendidikan Karim Suryadi, kepada Inilah.com, Rabu (29/9/2021).



Sekolah Mesti Berbenah

Persoalan hidup terus berevolusi seiring dengan tuntutan perkembangan zaman. Pendidikan mesti diarahkan untuk mampu mencetak lulusan yang berkualitas.

Tak hanya melalui Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Menengah Atas (SMA), tetapi Sekolah Menengah Pertama (SMP) juga mesti melek soal keterampilan.  

Sebab, walau SMK vokasional namun terkadang keterampilannya tak sesuai kebutuhan industri di lingkungan sekitar tempat tinggal siswa.  

Sekolah mesti hadir menambah keterampilan dengan mengemasnya dalam kegiatan  ekstrakurikuler.

"Daerah penyangga mestinya menjadi industri lapis kedua setelah bahan baku. Misalnya di daerah pinggiran (seperti di Bantargebang) soal sampahnya juga bisa diolah dengan tepat," tutup dia.

Sebelumnya, potret pendidikan daerah wilayah Aglomerasi Jabodetabek yang notabene  tak jauh dari pusat pemerintahan di republik ini, sedang dihantui degradasi pendidikan.

Seperti Ibu Kota. Data dari dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta, angka putus sekolah Sekolah Dasar pada tahun 2018-2019 sebanyak 0,04% dan 2019-2020 0,18%. Putus Sekolah Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2018-2019 0,09% dan 2019-2020 0,27%.

Hal lainnya seperti kondisi di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Banyak anak-anak memilih bekerja ketimbang sekolah.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Disdik DKI: 1.509 Sekolah Siap Gelar PTM Terbatas Senin Besok

Dinas Pendidikan DKI Jakarta menyebut sebanyak 1.509 sekolah siap menggelar Pembelajaran Tatap Mu
berita-headline

Viral

Paradoks Pendidikan dan Pandemi di Perkotaan

Efek pandemi telah menghantam banyak pihak, tetapi golongan miskin yang paling banyak mendapat be
berita-headline

Viral

Menuju Digitalisasi Sekolah di Pelosok Garut

Pandemi Covid-19 telah melanda Indonesia lebih dari satu tahun. Hal yang hangat perbincangkan dan
berita-headline

Viral

1.600 Anak Meninggal karena Covid-19, PTM Harus Terapkan Prokes Ketat

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) kini sudah mulai diberlakukan. Meski dilakukan secara terbatas di t
berita-headline

Viral

Dibayangi Kluster, Kolaborasi Jadi Kunci Pembelajaran Tatap Muka

Temuan kasus Covid-19  setelah tiga pekan pembelajaran tatap muka (PTM) nyatanya tetap terjadi.