https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   04 October 2021 - 13:15 wib

HTI 'Muncul' Lagi di KPK Setelah G30STWK

Foto bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di meja salah satu pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) viral di media sosial beberapa hari lalu. Atau tepatnya setelah Novel cs, 57 pegawai KPK dipecat.

KPK cepat merespon. Melalui Plt Juru Bicara, lembaga antirasuah langsung memecat satpam yang menyebarkan foto tersebut.

"Yang bersangkutan sengaja dan tanpa hak telah menyebarkan informasi tidak benar atau bohong dan menyesatkan ke pihak eksternal," kata Ali Fikri melalui keterangan tertulis, Jumat, (1/10/2021).

Ali mengatakan kejadian itu terjadi sekitar September 2019. Dia mengatakan bendera itu hanya mirip dengan yang dimiliki HTI. Dia menegaskan bendera itu bukan bendera HTI. Lembaga Antikorupsi sudah memeriksa pegawai yang menduduki meja tersebut saat itu.

"Tim langsung melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi, bukti dan keterangan lain yang mendukung," ujar Ali.

Pelaku sudah diketahui, juga sudah diberi hukuman, masalah selesai? Ternyata belum.


Mantan pegawai KPK Tata Khoiriyah mengaku bingung dengan Iwan setelah foto itu viral. Pasalnya, Iwan seharusnya tidak memiliki akses masuk ke ruangan tersebut.

"Dia (Iwan) memiliki akses yang terbatas dan khusus untuk bisa memasuki ruangan-ruangan di KPK. Sistem pengamanan di KPK memang sangat ketat dan dibatasi," kata Tata melalui keterangan tertulis, Senin (4/10/2021).

Aneh, Iwan adalah satpam bagian pengamanan rumah tahanan (rutan). Seharusnya, Iwan hanya bisa mengakses pintu yang menyangkut soal aktivitas tahanan dari rutan sampai ruang pemeriksaan.

Foto yang diambil Iwan, merupakan divisi penindakan yang ada di lantai sepuluh Gedung Merah Putih KPK. Akses Iwan untuk masuk ke ruangan itu tidak mungkin bisa dilakukan.

"Saat saya masih menjadi bagian Biro Humas KPK, saya hanya bisa mengakses ruangan-ruangan yang bersifat publik dan lingkup kesekjenan. Bahkan saya tidak bisa membuka pintu ruang kerja atasan saya sendiri," tutur Tata.

Tata juga bingung dengan keterangan Iwan yang mengaku sedang berkeliling sendiri saat berjaga di KPK. Padahal, akses Iwan sebagai Satpam saat itu sangat terbatas.

Pemecatan Iwan sangat masuk akal sebab dia masuk ke ruangan yang seharusnya tidak bisa diakses olehnya.

"Yang perlu digaris bawahi adalah bukan karena viralnya foto tersebut Mas Iwan diberhentikan. Tapi karena foto tersebut disebar ke publik tanpa ada klarifikasi, tanpa ada penjelasan dan dalam pemeriksaan Pengawas Internal ditemukan pelanggaran etik," tutur Tata.

Jangan cuma Satpam yang Dipecat
Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) meminta Kejaksaan Agung (Kejagung) turut memeriksa pegawai KPK yamg memasang bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) diruangan KPK.

"Patut diduga jaksa yang bertugas di KPK pembawa atau penyimpan bendera tersebut patut diduga  telah melanggar kode etik jaksa dan diduga melanggar disiplin pegawai negeri sipil (PNS)," kata Koordinator MAKI Boyamin Saiman, Senin, (4/10/2021).

Boyamin mengatakan kepemilikan bendera selain merah putih untuk pegawai negeri melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 53 tahun 2010 tentang Disiplin PNS. Kejagung diminta tidak lepas tangan meski kasus itu sudah diselesaikan oleh KPK.

"Meskipun dugaan jaksa yang sedang bertugas di KPK namun Jaksa Agung Muda Pengawasan Kejagung tetap berwenang melakukan pemeriksaan atas dugaan pelanggaran etik Jaksa dimanapun bertugas," ujar Boyamin.

Boyamin juga meminta Kejagung memeriksa secara independen. Kejagung diharap tidak meminta hasil pemeriksaan KPK terhadap pegawai itu untuk menjaga netralitas pemeriksaan.

Soal Taliban di KPK, sudah lama terdengar dan terus berulang. Bahkan salah satu alasan kuat Novel Cs dipecat dari KPK, adalah karena isu Taliban.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Polri Rekrut Mantan Pegawai KPK untuk Cegah Konflik

Langkah Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, berkeinginan
berita-headline

Viral

Taliban Klaim Kemenangan Mirip Kemerdekaan RI, Pengamat: Beda Jauh

Pengamat politik Timur Tengah, M. Najih Arromadloni menilai klaim Taliban atas perebutan Afghanis
berita-headline

Inersia

Afghanistan Terancam Kembali ke 'Zaman Kegelapan'

Ibu kota Afghanistan terancam kembali ke 'Abad kegelapan'. Musababnya, pemerintah Taliban belum m
berita-headline

Viral

Dipecat Firli Bahuri Cs, Kader NU Sang 'Raja OTT' Dagang dan Mengajar Mengaji di Pesantren

Harun Al Rasyid, merupakan salah satu dari 57 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tak
berita-headline

Viral

Taliban Larang Pria Cukur Jenggot karena Tak Sesuai Syariat

Penguasa baru Afghanistan,