https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   09 October 2021 - 05:03 wib

Menpora Soal Sanksi Badan Doping Dunia: Kita Patuhi Aturan

Viral
berita-headline

(ist)

Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora) Zainudin Amali memberikan klarifikasi terkait adanya surat dari Badan Anti-Doping Dunia (WADA) yang menyatakan Indonesia tidak patuh pada penegakan standar anti-doping karena tidak mengikuti Test Doping Plan (TDP) yang dibuat pada tahun 2020.

Ia mengingatkan untuk tetap optimis masih bisa mengelar event-event olahraga internasional terkait dengan ancaman sanksi badan antidoping dunia.

"Jadi tolong jangan dibayangkan sudah di-banned tidak bisa menyelenggarakan kejuaraan dan mengirim atlet dan sebagaianya. Ini kan dituduhkan ke kita karena tidak patuh," ujarnya dikutip dari laman kemenpora.go.id.

"Pemerintah punya komitmen untuk mematuhi semua aturan yang sudah disepakati. Tapi kami juga menjelaskan tentang kendala yang dihadapi di dalam negeri," katanya.

Politikus asal golkar itu mengatakan, memang setiap tahun pihaknya melalui Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) harus mengirimkan sample dan itu menjadi pegangan WADA untuk melihat apakah Indonesia sesuai dengan perencanaan atau tidak, hanya saja tahun 2020 kemarin situasi pandemi dan sample tidak terpebuhi jumlahnya. 

“Saya optimis kalau ini clear ya setelah kita komunikasi. Untuk tahun 2021 ini bisa terpenuhi dengan sample doping atau anti-doping yang diambil dari pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) tukasnya.

Badan Antidoping Dunia atau WADA menyatakan Indonesia tidak patuh terkait penegakan standar antidoping sehingga tidak memenuhi syarat untuk menjadi tuan rumah kejuaraan tingkat regional, kontinental, atau dunia, selama masa penangguhan. Lebih dari itu, atlet Indonesia terancam sanksi tidak boleh mengibarkan dan membawa nama negara selain di Olimpiade.

Selain Indonesia, WADA juga memasukkan Korea Utara dan Thailand dalam daftar negara yang tidak patuh. Hal itu disampaikan WADA dalam sebuah pernyataan pada Jumat (8/10) pagi WIB.

“Badan Antidoping Nasional (NADO) Korea Utara dan Indonesia tidak patuh karena tidak menerapkan program pengujian yang efektif," bunyi pernyataan dari WADA dikutip dari Reuters. Adapun ketidakpatuhan Thailand dikarenakan kegagalan untuk sepenuhnya menerapkan kode atau standar prosedur antidoping yang ditetapkan WADA.

Hukuman ini bukan kali pertama karena Indonesia juga sempat dihukum WADA pada empat tahun silam. Indonesia saat itu akhirnya dicabut hukumannya karena membereskan masalah terkait “menggunakan lab yang tidak diakui WADA”.


Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Indonesia Masih Punya Kesempatan Klarifikasi Anti-Doping ke WADA

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali mengatakan, Indonesia masih mempunyai kesemp
berita-headline

Viral

Tidak Dalam Naungan IOC dan WADA, Superbike Mandalika dan MotoGP Tetap Bisa Kibarkan Merah Putih

Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari memastikan terkait sanks
berita-headline

Viral

Merah Putih Tidak Bisa Berkibar di Piala Thomas, Taufik Hidayat Semprot Menpora, LADI dan KONI

Tidak berkibarnya bendera merah putih dan digantikan bendera PBSI di Piala Thomas 2020 mendapat k
berita-headline

Viral

Ustaz Adi Hidayat: Suaminya Sudah di Rumah, Istrinya Jangan Lama-lama di Luar

Inisiator Turnamen Tenis Meja UAH Super Series 2021, Ustaz Adi Hidayat berharap pihak Kementerian
berita-headline

Viral

Tebus Kesalahan, Menpora Kirim Tim Negosiator ke Badan Doping Dunia

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali meminta maaf kepada publik atas kejadian yan