https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   13 October 2021 - 03:45 wib

Infrastruktur Mubazir Bikin Keuangan Negara Tekor, Harus Ada yang Bertanggung Jawab

Ambisi besar Presiden Joko Widodo membangun infrastruktur memang tidak salah. Namun, jangan serampangan seperti sekarang. Hasilnya, banyak proyek mubazir yang mengancam keuangan negara.

Menurut catatan ekonom senior Fuad Bawazier, banyaknya proyek infrastruktur di era Jokowi yang bermasalah. Mulai dari proyek tol Cilincing-Cibitung, LRT Palembang, Bandara Kertajati, Kereta Cepat Jakarta-Bandung serta sejumlah pelabuhan di Indonesia Timur.

"Semuanya karena visibility study-nya amburadul. Lahirkan infrastruktur yang mubazir," papar Fuad saat dihubungi Inilah.com, di Jakarta, Selasa (12/10/2021).

Dikatakan Fuad, Waskita Karya terpaksa melego tol Cibitung-Cilincing sebesar Rp2,4 triliun. Padahal, modal untuk membangunnya sebesar Rp10,8triliun.

"Saya tidak menyalahkan yang beli, karena harganya memang segitu. Tapi, bagaimana visibility study-nya sebelum bikin tol itu. Nah, kalau BUMN-nya merugi, harus ada yang tanggung jawab dong," ungkapnya.

Sedangkan untuk proyek LRT Palembang, mantan menteri keuangan ini menyebutnya sebagai proyek mubazir. Karena saat ini, penumpangnya sepi. Sementara pemerintah terus menggelontorkan dana miliaran untuk subsidi.

"Nantinya akan sama dengan kereta cepat Jakarta-Bandung. Untuk rute Jakarta-Bandung, saya kira enggak perlulah kereta cepat," terangnya.

Soal Bandara Kertajarti, menurut Fuad, nasibnya setali tiga uang. Bandara terbesar setelah Bandara Soekarno-Hatta ini, biaya pembangunannya hampir Rp5 triliun, kini bak bandara hantu. Lantaran tak ada penerbangan. "Saya dengar, beberapa pelabuhan di Indonesia Timur nasibnya sama. Tidak digunakan," tuturnya.

Fuad menilai, banyak proyek infrastruktur di era Jokowi ini meninggalkan banyak masalah. Hal tersebut menggambarkan tiga hal. Pertama, harganya kemahalan, akibatnya terjadi pembengkakan biaya pembangunan.

Kedua, lanjutnya, kualitas infrastrukturnya rendah. Berdampak kepada tingginya biaya maintenance and prepare. Ketiga, income atau pemasukannya meleset dari study.

"Contohnya itu tadi, tol Cilincing laku Rp2,4 triliun atau 23 persen dari biaya pembangunannya. Saya kira, kesalahan ini harus ada yang bertanggung jawab," tegas Fuad. 

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Kanal

Kementerian PUPR Gelar Bimtek Skema Pekerjaan Konstruksi Terintegrasi Rancang Bangun

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus berinovasi dalam mempercepat pembang
berita-headline

Viral

Presiden Dianugerahi Bapak Infrastruktur, Utang BUMN Karya Makin Menggunung

Ambisi besar Presiden Joko Widodo yang berjuluk Bapak Infrastruktur Indonesia, membangun jalan to
berita-headline

Viral

Media Barat Sebut Utang China Mencekik dan Tidak Transparan, Mirip Rentenir

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Dradjad Hari Wibowo meng
berita-headline

Viral

Awas Jebakan Utang Jilid II di Pembangunan Ibu Kota Baru!

Direktur Center of Economic and Law studies (CELIOS), Bhima Yudhistira mengingatkan potensi jebak
berita-headline

Viral

Bandara Kertajati, LRT Palembang, Kereta Cepat Jakarta-Bandung: Rapor Merah Infrastruktur Jokowi

Pembangunan infrastruktur era Jokowi masif dan jor-joran. Namun terkesan serampangan alias kurang