https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   13 October 2021 - 15:37 wib

Sri Sultan Usul 1 Maret Jadi Hari Besar Nasional

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengusulkan tanggal 1 Maret ditetapkan sebagai hari besar nasional, karena di tanggal tersebut terjadi peristiwa besar dan bersejarah yang pernah terjadi di Indonesia.

Peristiwa besar yang dimaksud Sri Sultan adalah insiden Agresi Militer Belanda II atas pendudukan Ibu Kota Republik Indonesia (RI) yang saat itu berada di Yogyakarta yang tak lepas dari peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Panglima Besar Jenderal Soedirman.

“Bukan untuk menokohkan seseorang, tetapi sebuah ikhtiar untuk mengingat kembali kesatupaduan perjuangan TNI bersama rakyat," kata Sultan saat rapat pembahasan usulan Pemda DIY tentang penetapan 1 Maret sebagai Hari Besar Nasional RI secara virtual di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (12/10/2021).

Sri Sultan Hamengku Buwono X mengusulkan ini saat rapat daring dengan beberapa pihak seperti Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Hukum dan HAM, Kemenko Polhukam, Kemenristek Dikti.

Dia menyebut bahwa peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah dimulainya kembali perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan Belanda. Selain itu peristiwa itu juga menjadi sejarah yang berarti bagi warga Yogyakarta dan seluruh Bangsa Indonesia.

"Mereka yang terlibat pada peristiwa bersejarah itu bukan oleh pejuang kemerdekaan dari Yogyakarta sendiri, tetapi mereka berasal dari seluruh negeri ini," ucap dia.

Sri Sultan mengatakan dalam proses berdirinya NKRI banyak peristiwa-peristiwa penting yang melahirkan tokoh-tokoh pahlawan bangsa yang tidak tercatat secara resmi oleh Negara.

“Sejatinya peristiwa tersebut respon balik terhadap Agresi Belanda II atas pendudukan Belanda di Yogyakarta Ibu kota Republik Indonesia," jelasnya.

Raja Keraton Yogyakarta ini menegaskan bahwa Serangan Umum 1 Maret 1949 membuat Republik Indonesia ditegakkan kembali kedaulatannya.

Serangan itu, kata Sri Sultan, dirancang sebagai peristiwa politik militer agar Republik Indonesia dianggap tetap eksis meski kepemimpinan negara ditawan dan terbukti berdampak secara internasional.

Berkaitan dengan hal tersebut, ia memandang perlu ada tindak lanjut dari pengusulan 1 Maret sebagai Hari Besar Nasional antara lain melakukan sosialisasi nasional secara berkala sejak pengusulan tahun ke III pada tahun 2021 ini sebagai mana arahan Kemendagri.

Dalam lingkup lokal di Yogyakarta, peringatan Serangan Umum 1 Maret secara rutin dirayakan dengan berbagai ragam kegiatan antara lain diskusi refleksi sejarah, hingga gelar seni pameran.

Sri Sultan mengatakan dalam konteks masa kini, nilai-nilai kejuangan perlu secara terus menerus dipelihara sebagai sumber semangat kebangsaan.

"Jiwa dan semangat kejuangan itu tetap diperlukan sepanjang zaman, karena pembangunan bangsa memerlukan sikap kepahlawanan dan kegigihan pejuangnya," ujarnya.

Sri Sultan mengapresiasi seluruh jajaran yang berkontribusi pada awal proses penetapan Serangan Umum 1 Maret 1949 agar menjadi Hari Besar Nasional sebagai bagian sejarah nasional Indonesia.

"Dengan ditetapkannya Serangan Oemum 1 Maret 1949 menjadi Hari Besar Nasional menjadi memori kolektif yang tak terlupakan dalam sejarah menegakkan Proklamasi Republik Indonesia 17 Agustus 1945," tutur dia.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

Tidak Ada Berita yang Relevan