https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   13 October 2021 - 16:21 wib

APPSI Desak Kapolri Ikuti Intruksi Presiden Soal Preman Pasar

Viral
berita-headline

Preman Pasar (Ilustrasi)

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) meminta Kapolri untuk memberantas pungli yang menimpa para pedagang pasar. Hal itu menyusul kasus penganiyaan yang dilakukan sejumlah preman kepada Litiwari Iman Gea alias Rosalina Gea (LG). LG dan putrinya menjadi korban penganiayaan oleh sejumlah preman yang meminta uang (pungli) kepada dirinya ketika berdagang di Pasar Gambir, Deli Serdang, Sumatera Utara (5/9/21).

"Kami meminta Kapolri memerintahkan Kapolda Sumatera Utara, Kapolres, dan Kapolsek di seluruh wilayah Sumatera Utara untuk memberantas pungli yang menimpa para pedagang," kata Ketua DPP APPSI Sudaryono kepada Inilah.com, Rabu (13/10/2021).

Tak hanya itu, APPSI juga meminta pemberantasan preman pasar menjadi prioritas kepolisian. Hal ini, sejalan dengan intruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal premanisme."Padahal Presiden Joko Widodo telah menyatakan perang terhadap Pungli dengan diterbitkannya Perpres Nomor 87 Tahun 2016 tentang Satuan Tugan Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli). Bahkan sampai pertengahan tahun ini Presiden Republik Indonesia masih tegas melakukan perlawanan terhadap Pungli, salah satunya saat sidak pungli di pelabuhan Tanjung Priuk, bulan Juni 2021 lalu," ungkapnya.

DPP APPSI kata Sudaryono, berjanji akan mengawal kasus LG hingga selesai. Apalagi belakangan, muncul isu bahwa RG dituduh memeras preman sebagai syarat damai mulai Rp150 juta sampai Rp500 Juta."Padahal isu ini dibuat oleh pihak yang ingin menjatuhkan citra RG dan keluarga, serta ingin membunuh karakter RG sebagai Korban. Yang terjadi sebenarnya adalah pihak Penganiaya yang menelepon RG dan menawarkan uang sebesar 15 Juta rupiah agar LG menarik laporannya," tandasnya.

APPSI juga sudah bersurat ke Presiden Jokowi serta Komisi III DPR RI untuk menjadikan kasus RG sebagai aksi terakhir preman pasar. Dewan Pembina APPSI, Ngadiran, kepada Inilah.com mengirimkan tautan video untuk mengambarkan bahwa aksi premanisme terhadap pedagang pasar, bukan barang baru. Tidak juga hanya terjadi di Deli Serdang.

Dalam video tersebut, sejumlah pedagang pasar di Winenet, Bitung melakukan protes setelah kerap ditindas lewat pemalakan kerkedok iuran bulanan oleh oknum preman setempat. Salah satu pedagang mengeluh tiap bulan harus membayar hingga Rp350 ribu. Padahal sehari-hari, pendapatannya tak lebih dari Rp15 ribu. Jika tak bayar, intimidasi kerap diterima para pedagang Pasar Winenet.


Aksi premanisme di pasar Winenet, Bitung terbongkar setelah pedagang kompak teriak menolak membayar dan meminta bantuan aparat dan pemerintah setempat.

APPSI berharap kasus ini menjadi momentum untuk memberantas preman di pasar. Sebab selama ini, kasus pemalakan terhadap pedagang pasar masih terjadi dan sulit dibenahi. Kalaupun dilakukan penindakan, sifatnya masih pasrial.

Sebelumnya, video penganiayaan terhadap LG viral di media sosial. Setelah lapor polisi, LG malah jadi tersangka. Cerita berawal saat video pertengkaran LG dan preman berinisial BS cekcok di pasar tersebar luas di media sosial. Dalam video yang viral sejak September 2021 itu, terlihat LG berada di depan salah satu lapak dagangan. LG saat itu terlihat memakai baju merah muda.

LG terlihat sempat bergerak ke arah BS. Pria itu terlihat menghindar dan LG tampak terjatuh serta berteriak. Berikutnya, tampak pria diduga preman itu menendang LG. Selain itu, terdengar dua suara seperti hantaman ke tubuh seseorang disertai teriakan seorang wanita. Peristiwa itu diduga terjadi pada September 2021.

Setelah video ini viral, polisi menangkap seorang pria. Kapolsek Percut Sei Tuan, Janpiter Napitupulu, mengatakan pria itu telah mengakui perbuatannya saat diinterogasi polisi."Sudah kita amankan itu pelakunya ya. Satu orang," ujar Janpiter, Selasa (7/9/2021)."Dia mengaku melakukan itu sendirian," sambungnya.

Akan tetapi, kasus tak berhenti. BS melaporkan balik LG karena merasa dirinya juga dipukul. Polisi melakukan penyelidikan terkait pemukulan itu. Setelah menemukan bukti yang cukup, polisi menetapkan LG sebagai tersangka."Masing-masing kedua belah pihak membuat laporan ke SPKT Polsek Percut Sei Tuan," ucap AKP Janpiter saat dimintai konfirmasi, Jumat (8/10/2021).

Janpiter menyebut BS dan LG diduga saling pukul saat peristiwa itu terjadi. Janpiter mengatakan BS melaporkan dua orang, yakni LG dan TH. Sementara, LG melaporkan tiga orang yakni BS, DD dan FR."Kedua laporan tersebut sudah terpenuhi dan mencukupi dua alat bukti yang sah. Sekarang dalam proses pemeriksaan," ujar Janpiter.

Dalam surat panggilan terhadap LG, tertera jelas status tersangka terhadap LG. Surat itu menyebut LG sebagai tersangka dan dijerat pasal 170 subs pasal 351 ayat (1) KUHP.

Suami LG, Endang Hura, menceritakan duduk perkara kasus ini versinya. Kejadian tersebut terjadi pada 5 September 2021 setelah LG menolak memberikan uang kepada preman itu."Dia (preman) minta uang dari jam 07.00 WIB, uang pajak ini. Istri aku nanya ke dia, 'Kamu siapa, kok minta uang sama aku'. Dia minta uang Rp 500 ribu, ngaku dari forum. Itulah forum namanya, organisasi yang dibuat orang itu," tuturnya.

Dia mengatakan istrinya menolak memberikan uang dan mereka pergi untuk berbelanja. Setelah pulang belanja, preman itu masih ada di lokasi dan kembali meminta uang kepada mereka."Balik jam 09.00 WIB, masih di situ dia. Setelah itu dia berkata-kata, 'Nggak usah kau jualan di situ, bikin macet'. Istriku minta tunggu untuk membongkar barang-barang. Terus pria itu turun dari kereta marah-marah, langsung ditendang istriku dua kali," sebutnya.

Istri BS, pria diduga preman yang memukul pedagang di Pajak Gambir punya cerita lain versinya. Istri BS yang bernama Nurhalimah mengatakan saat peristiwa dugaan penganiayaan itu terjadi, dia dan suaminya berangkat ke pajak untuk belanja. Setelah tiba di pajak, dia mengaku pergi berbelanja sementara suaminya mencari tempat parkir sepeda motor.

"Sampai di pajak, sekitar jam 08.00 WIB jalanan macet, awak (saya) turun di simpang. Awak masuk ke dalam pajak belanja. Laki (suami) awak cari parkiran. Tapi awak nggak tahu parkiran yang mana. Tapi setahu awak dia parkir di tempat tongkrongan kawan-kawannya," ujar Nurhalimah kepada wartawan usai menjenguk suaminya di Polsek Percut Sei Tuan, Minggu (10/10/2021).

Setelah belanja, dia menyusul suaminya. Tetapi, dia malah melihat ada keramaian dan saat dihampiri ternyata suaminya lagi ribut-ribut."Setelah awak belanja, sekitar jam 09.00 WIB, awak keluar mau pulang, awak mau menyusul laki awak di parkiran. Awak tengok kok ramai kali di simpang itu ada apa. Awak tengok ternyata laki awak sama Ibu itu yang berkelahi," ucap Nurhalimah.

Setelah peristiwa itu, Nurhalimah mengaku pihaknya sudah meminta untuk berdamai dengan pihak LG. Dia mengaku dimintai uang Rp 150 juta untuk perdamaian itu. Selain itu, dia menegaskan suaminya bukan preman dan tidak melakukan pungli."Ada, saya ada mediasi. Walaupun suami saya itu benar ataupun dia salah, tapi demi Allah belum pernah suami saya lakukan seperti itu. Karena awak mikir anak-anak, dan cari nafkah itu suami, rumah kami pun bulanan. Jadi yang awak harapkan itu awak ajaklah kekeluargaan untuk berdamai. Rupanya minta katanya Rp 150 juta," sebutnya.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Buntut Pedagang Dianiaya Malah Jadi Tersangka, Kanit Reskrim Percut Sei Tuan Dicopot

Karena dianggap tak profesional, Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan dicopot buntut kasus pegada
berita-headline

Viral

Megawati Jadi Ketua Dewan Pembina BRIN, Malapetaka Riset dan Inovasi Indonesia

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra menilai pengangkatan Megawati Soekarnop