https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   14 October 2021 - 04:48 wib

Ichsanuddin Noorsy: Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Kemahalan, Duitnya Mengalir ke Siapa?

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, tak hanya meninggalkan bengkaknya biaya yang berarti utang negara ikut gede. Di kubu lain, China bisa jadi mengoleksi cuan besar.

Pengamat ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy, menyebut proyek sepur kilat Jakarta-Bandung yang digarap PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), jelas-jelas kemahalan. Apalagi di tengah perjalanan, biayanya mengalami bengkak sekitar Rp27 triliun dari Rp86 triliun menjadi Rp113 triliun.

"Menurut hitung-hitungan saya, proyek ini kemahalan. Sudah mahal nambah pula. Ini kan gawat," ungkap Noorsy saat berbincang dengan Inilah.com, Rabu (13/10/2021).  

Informasi saja, panjang lintasan kereta cepat jurusan Jakarta-Bandung mencapai 142,3 kilometer. Memiliki  empat stasiun pemberhentian yakni  Halim, Karawang, Walini dan Tegalluar. Ditambah 1 depo di Tegalluar.

"Karena punya empat stasiun, kereta ini menjadi tidak cepat lagi. Jadi dari aspek keterhubungan, ada masalah," ucapnya.

Selama pengerjaan konstruksi, menurut Noorsy, China mengeruk banyak cuan. Mulai dari keuntungan dari menjual utang. Untuk pembiayaan proyek, China Development Bank memberikan utangan kepada Indonesia dengan bunga 2%, tenor 10 tahun.

Awalnya, kebutuhan biaya diperkirakan US$5,5 miliar, kemudian naik menjadi US$6,1 miliar. Naik lagi menjadi US$8 miliar, atau sekitar Rp113,9 triliun.

"Keuntungan China selanjutnya dari jual teknologi. Ditambah keuntungan dari memindahkan penyusutan (amortisasi) menjadi beban Indonesia," ungkapnya.

Masih menurut Noorsy, industri China juga kebagian cuan dari proyek ini. Industri besi dan baja, perusahaan konstruksi, perusahaan konsultan hingga pekerja China. Ditambah lagi dari penggunaan kereta cepat generasi terbaru CR400AF.

"Tentunya pengadaan dan spare-partnya harus beli dari mereka. lagi-lagi pekerja China bakalan banyak," ungkapnya.

Ya, Noorsy benar. Karena biaya bengkak maka utang negara ikut bengkak. Di mana, 75% pembiayaan proyek keereta cepat berasal dari utang China Development Bank. Yang bunganya 2%, tenor 10 tahun.

Kalau diasumsikan biaya proyek sebesar Rp113,9 triliun, maka 75% nya setara Rp85,4 triliun. Total bunga pinjaman untuk 10 tahun adalah 20% kali Rp85,4 triliun, menjadi Rp17 triliun. Pemerintah harus siapkan duit Rp,1,7 triliun per tahun, untuk pembayaran bunga pinjaman saja.  




Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Kanal

Anggota DPR dari PKS: Kereta Cepat Ambil Jatah Rakyat

Ecky Awal Mucharam, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS memberi kritikan keras terhadap dikeluarkannya
berita-headline

Viral

Bila Terjebak Utang China, Indonesia Bisa Seperti Sri Langka, Maladewa dll

Tak cuma Indonesia, utang terselubung juga menjerat banyak negara. Bahkan di
berita-headline

Viral

Beda dengan Jokowi, PM Malaysia Berani Batalkan Proyek Kereta Cepat Meski Bayar Ganti Rugi

Berbeda dengan Presiden Joko Widodo, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin berani mengambil r
berita-headline

Inersia

Bos Huawei Akhirnya Bebas, Langsung Pulang ke China

Chief Financial Officer (CFO) Huawei Technologies, Meng Wanzhou, a
berita-headline

Viral

Foto-foto Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang Kini Dibiayai oleh APBN