https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   23 August 2021 - 04:33 wib

Afghanistan, Taliban dan Tambang Mineral Dunia

Wujud dari Taliban menguasai Afghanistan mulai dipertanyakan banyak pihak. Diketahui lebih dari sepekan setelah Taliban menguasai Afghanistan, dunia menunggu akan seperti apa rupa negeri itu di bawah pemerintahan mereka kedua kali setelah 1996-2001.

Berdasarkan dokumen yang dibocorkan Wikileaks penguasaan Taliban di Afghanistan disinyalir merupakan salah satu motif kepentingan ekonomi bisnis perusahaan internasional semata.

"Keberhasilan privatisasi sumber daya tembaga Aynak "kelas dunia" Afghanistan di dekat #Kabul, dapat membantu 're-branding' #Afghanistan sebagai tempat di mana perusahaan internasional dapat melakukan bisnis, menurut AS CAble tahun 2007," cuit akun WikiLeaks.

Meski tak diungkap secara detail perusahaan internasional yang dimaksud bisa jadi ini adalah sekutu-sekutu taliban yang siap menggambil kendali akan sumber daya alam yang melimpah.

Dilansir dari reuters, diketahui sejak kajian dari survei geologi AS satu dekade lalu mengidentifikasikan adanya cadangan sumber daya mineral yang kemudian diperkirakan bernilai 1 triliun dolar, pejabat Afghanistan dan asing telah mengembar gemborkan cadangan tambang tersebut sebagai kunci kemandirian ekonomi Afghanistan.

Selain sumber daya emas, perak dan platinum, Afghanistan memiliki cadangan bijih besi, uranium, zinc, tantalum, bauksit, batubara dan gas alam serta tembaga dalam jumlah yang signifikan. Terutama untuk tembaga, dimana keberadaan cadangan di Afghanistan menjadi penting karena langkanya penemuan cadangan baru di tambang-tambang seluruh dunia.



Beberapa laporan mengatakan Afghanistan berpotensi menjadi “Arab Saudi-nya litium,” karena memiliki cadangan bahan mentah yang digunakan dalam pembuatan telepon selular dan baterai mobil listrik.

Menurut pengamat politik Timur Tengah  M. Najih Arromadloni setiap pergerakan invasi yang dilakukan AS dahulu selalu memiliki motif kepentingan bisnis karena negara Afghanistan memiliki sumber daya yang melimpah.

Ia menambahkan di setiap invasi negara seperti AS tidak pernah lepas dari kebutuhan lain. Selain Afghanistan memiliki sumber daya yang melimpah, kekuasaan militer juga jadi incaran negara seperti Inggris dan Prancis.

"Untuk Afghanistan bahkan yang berbisnis bukan hanya AS, tapi juga Prancis dan Inggris. Masing-masing punya kue pangkalan militer disana.
Pangkalan tersebut ditempatkan di lokasi yg strategis secara ekonomi sumber daya," ujarnya kepada INILAHCOM, Senin (23/08/2021).

Kepentingan lain yang ingin dikurangi Taliban adalah kerugian berlebih yang sudah dialami selama dua dekade terakhir perang Afghanistan telah menyedot setidaknya dana 2 triliun dollar AS dari pundi-pundi Washington.

Selain dana, Departemen Pertahanan mengatakan, sebanyak 2.442 tentara AS tewas dan 20.666 lainnya luka-luka selama perang di Afghanistan. Tak hanya itu, diperkirakan lebih dari 3.800 kontraktor keamanan swasta AS dan 1.144 personel NATO tewas dalam konflik di Afghanistan.

Tak hanya AS dan NATO, warga Afghanistan juga membayar dengan harga lebih tinggi. Sejak pecah perang tahun 2001, sebanyak 47.245 warga sipil tewas dan jutaan lainnya telantar dan mengungsi. Setidaknya 66.000 atau 69.000 tentara Afghanistan tewas.

Kini, dunia harus menerima realitas baru, yakni tidak hanya kenyataan bahwa Taliban menguasai kembali Kabul dan negeri Afghanistan, tetapi juga realitas bahwa Taliban serta-merta menjadi kekuatan politik dan militer terkuat yang tak tertandingi di Afghanistan saat ini.

Bergandengan Negara Kawasan

Keinginan Taliban berkuasa di Afghanistan membuat kelompok militan itu bergandengan dengan Iran, India, Rusia, dan China. Guna memuluskan hubungan, Taliban tak mau ikut campur persoalan di sebagian negara-negara itu, seperti persoalan Uighur di China dan masalah Kashmir di India.

Media yang dikelola pemerintah Cina menggambarkan bagaimana Afghanistan sekarang dapat mengambil manfaat besar-besaran dari Belt and Road Initiative (BRI) yang sering disebut senagai Jalur Sutra Baru, sebuah rencana kontroversial Beijing membangun rute jalan, kereta, dan laut dari Asia ke Eropa.

Namun, muncul kekhawatiran tentang keamanan regional. Beijing juga khawatir bahwa Afghanistan bisa menjadi tempat persembunyian bagi kaum minoritas Uighur dari Cina dan kepentingan ekonominya akan dirusak oleh kekerasan yang terus berlanjut di Afganistan.

"Operasi penambangan MCC telah terganggu oleh ketidakstabilan di negara itu karena konflik antara Taliban dan mantan pemerintah Afghanistan," jelas Tanchum, yang juga seorang peneliti di Middle East Institute (MEI) dikutip dari DW.

Para pemimpin baru Afghanistan ini dinilai masih menghadapi perjuangan berat dalam mengekstraksi kekayaan mineral negara itu. Penciptaan sistem penambangan yang efisien bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Perekonomian Afghanistan tampaknya juga akan tetap sangat bergantung pada bantuan asing di masa mendatang, meskipun beberapa pemerintah Barat - termasuk Jerman - memotong bantuan pembangunan dalam upaya untuk mengendalikan kekuatan Taliban.

Masalah keamanan yang masih berlangsung dan korupsi yang merjalela di negara itu dinilai dapat terus menghalangi investasi asing. Selain itu, infrastruktur dan sistem hukum Afganistan juga masih sangat kurang.

"Salah satu masalah utama adalah Anda tidak dapat mengeluarkan sumber daya dari negara itu tanpa pasukan untuk mengamankannya dari Taliban," kata Schindler. "Sekarang, ancaman itu sudah hilang, tetapi infrastruktur masih belum ada, jadi mereka akan tetap membutuhkan investasi skala besar."

AS dan Eropa kini menghadapi dilema baru tentang cara terbaik untuk terlibat dengan Taliban. Banyak investor Barat enggan untuk menawar tender proyek sumber daya alam, dengan alasan masalah keamanan dan aturan hukum.

Jika mereka mencoba untuk terlibat dengan Taliban, mereka akan dikritik karena mengabaikan penggulingan yang dilakukan kelompok itu terhadap demokrasi yang baru lahir dan pelanggaran hak asasi manusia di sana. Sebaliknya jika mereka tidak menjalin hubungan dengan Taliban, mereka akan kehilangan kesempatan yang akan direbut China dan sekutu tradisional Taliban lainnya.


Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Taliban: Hak Belajar Perempuan Afghanistan Diatur Sesuai Hukum Islam

Para perempuan Afghanistan akan diizinkan untuk belajar di universitas tetapi akan ada larangan k
berita-headline

Viral

Lembaga Riset AS Ungkap 'Utang Terselubung' Indonesia ke China Tembus Rp481,32 Triliun.

Aiddata, sebuah lembaga riset asal Amerika Serikat mengungkap adanya aliran dana yang disebut 'ut
berita-headline

Viral

Buka APBN untuk Biayai Proyek Kereta Api Cepat, Janji Jokowi tak Seindah Aslinya

Keputusan Presiden Joko Widodo menerbitkan Perpres 93/2021 yang membuka keran APBN untuk membiaya
berita-headline

Viral

HTI 'Muncul' Lagi di KPK Setelah G30STWK

Foto bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di meja salah satu pegawai Komisi Pemberantasan Korups
berita-headline

Inersia

Deretan Laptop Chromebook ASUS untuk Sekolah

ASUS baru saja memperkenalkan laptop Chromebook Flip C214. Menurut ASUS, laptop ini dirancang khu