https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   24 August 2021 - 13:34 wib

Misi Berhasil, Pesawat TNI AU Evakuasi 26 WNI dari Afghanistan

Pesawat TNI-AU  Boeing B-737 seri 400 Skadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusuma berhasil mengevakuasi 26 WNI, 5 warga Filipina, dan dua warga Afghanistan dari Bandara Hamid Karzai Internasional Kabul, Afghanistan.

Sebagai pesawat militer yang tak memiliki ijin terbang reguler, Pesawat TNI-AU itu tak bisa langsung terbang dari Kabul ke Jakarta. Boeing 737-400 yang bercat putih-abu-abu itu harus mengurus lebih dahulu izin melintas wilayah udara di sejumlah negara.

Tim penjemput harus menempuh perjalanan panjang. Pesawat bertolak dari Jakarta lalu transit di Banda Aceh, kemudian ke Colombo, Karachi, dan tiba di Islamabad.

Pesawat penjemput itu memang direncanakan untuk bermalam di Islamabad dengan pertimbangan jarak penerbangan ke Kabul cukup pendek, sekitar 55 menit. Dengan demikian, pesawat bisa bergerak cepat jika sewaktu-waktu ada konfirmasi tentang slot waktu pendaratan di Bandara Hamid Karzai, Kabul.

Slot mendarat mula-mula dijadwalkan Kamis pagi pukul 04.10 waktu setempat. Namun, slot tersebut ditarik dan tertunda karena perkembangan di lapangan yang tak kondusif. Pesawat pun diputuskan tetap menunggu di Islamabad. Koordinasi berlanjut dan permintaan pendaratan diulang.

Pada Jumat pukul 04.10 pagi, pesawat putih-abu-abu TNI-AU itu bertolak dari Islamabad, dan mendarat di Kabul pukul 05.17. Boarding yang direncanakan 30 menit molor hampir dua jam. Setelah semua siap, pesawat dengan semua evacuee bertolak dari Kabul menuju Jakarta, dengan lebih dahulu transit di Islamabad. Dari ibu kota Pakistan itu, Boeing dari Skadron 17 TNI-AU Halim Perdanakusuma itu pun terbang pulang, dengan transit di Karachi, Colombo, dan Banda Aceh, dan tiba di Jakarta Sabtu dini hari.

Misi Evakuasi Penuh Tantangan

Sejumlah tantangan dihadapi oleh penerbang dan awak pesawat TNI AU saat menjalani operasi evakuasi warga negara Indonesia di Kabul, Afghanistan.

Tantangan itu di antaranya kerumunan massa yang terus bertambah di Bandara Hamid Karzai, Kabul, dan bandara di Islamabad, Pakistan, sampai fungsi pengaturan dan navigasi yang tidak beroperasi maksimal di Bandara Hamid Karzai setelah Taliban mengambil alih pemerintahan di Afghanistan.

"Terutama adalah data-data terkini dari landasan Bandara Hamid Karzai International, serta kondisi sekitar landasan yang tidak menentu. Eskalasi kerumunan massa terjadi ketika awak pesawat sampai di Islamabad sehingga keputusan dari Kementerian Luar Negeri RI menunda penjemputan selama 1-2 hari," ujar Mayor Pnb Mulyo sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis Dinas Penerangan TNI AU.

Namun, awak pesawat akhirnya mendapatkan data-data lengkap kondisi Bandara Hamid Karzai dan tim memutuskan terbang ke Kabul.

Namun, penerbang dan awak pesawat menghadapi tantangan lain setibanya di Bandara Hamid Karzai. Bandara itu berada di wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan dan banyak fasilitas navigasi serta kontrol dari bandara yang tidak berfungsi.

"Medannya dikelilingi pegunungan dengan ketinggian landasan pacu 5.877 kaki di atas permukaan laut, ditambah fasilitas bantuan navigasi bandara (ILS, VOR), night facilities, dan air traffic service yang tidak berfungsi maksimal, mengakibatkan awak pesawat menghadapi tantangan berat saat mendekati Bandara Hamid Karzai," kata Mayor Pnb Mulyo Hadi.

Belum lagi landasan pacu di Bandara Hamid Karzai cenderung gelap karena pendaratan berlangsung pada dini hari saat matahari belum terbit dan lampu di landasan pacu tidak seluruhnya menyala."Landing di Kabul jadi tantangan paling utama bagi seluruh awak pesawat A-7305," ujar dia.

Usai mendarat, tim evakuasi segera menjemput 26 WNI dan tujuh warga negara asing untuk masuk pesawat. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sebagai pemegang otoritas sementara bandara di Kabul memberikan waktu yang terbatas untuk evakuasi.

Tim evakuasi semula menjadwalkan evakuasi berjalan selama 30 menit, tetapi prosesnya akhirnya berlangsung selama dua jam."Demi keselamatan bersama, kami membatasi barang bawaan hanya koper jinjing saja sehingga kami memohon maaf kepada WNI dan WNA karena tidak semua kopernya bisa masuk dalam pesawat," kata dia kepada para WNI dan WNA yang dievakuasi.

Tim evakuasi secara keseluruhan terdiri atas prajurit TNI, anggota Badan Intelijen Negara, dan Kementerian Luar Negeri RI.

Mayor Pnb Mulyo Hadi, yang mewakili satuannya, menyampaikan rasa bangga karena Skadron Udara 17 dipercaya mengemban tugas negara mengevakuasi dan menyelamatkan WNI di tengah situasi Afghanistan yang memanas.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Bersama Suami Pejabat Wanita ini Hanya Pasrah Tunggu Dibunuh Taliban

Wali kota perempuan pertama di Afghanistan Zarifa Ghafari pasrah menunggu Taliban datang membunuh
berita-headline

Viral

HTI 'Muncul' Lagi di KPK Setelah G30STWK

Foto bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di meja salah satu pegawai Komisi Pemberantasan Korups
berita-headline

Inersia

Afghanistan Terancam Kembali ke 'Zaman Kegelapan'

Ibu kota Afghanistan terancam kembali ke 'Abad kegelapan'. Musababnya, pemerintah Taliban belum m
berita-headline

Viral

Isu Bendera Mirip HTI Sengaja Dipolitisir untuk Fitnah 57 Pegawai KPK

Juru Bicara 57 mantan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Hotman Tambunan telah membant
berita-headline

Viral

Media Barat Skeptis dengan Janji Taliban

Dun