https://dev-alb-jkt.lifepod.id/dmp?nw=SSP&clientId=imUQagXzHv

berita   24 August 2021 - 04:42 wib

Afghanistan Jatuh ke Taliban, Bagaimana Sikap Indonesia?

Sudah hampir dua minggu ini, mata dunia tertuju ke Afghanistan. Pemerintahan Afghanistan telah jatuh setelah mendapat serangan bertubi-tubi dari kelompok Taliban. Apakah Taliban akan mendapatkan pengakuan dunia untuk Kembali memerintah Afghanistan? Bagaimana sikap Indonesia?.

Afghanistan kembali bergejolak. Kelompok Taliban kini menguasai Afghanistan pasca penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari negara penuh konflik tersebut. Sebelumnya AS telah berada di Afghanistan tersebut selama 20 tahun.

Tanpa bantuan pasukan AS, Pemerintahan Afghanistan di bawah Presiden Ashraf Ghani tidak mampu melawan gempuran massif yang dilakukan kelompok Taliban. Satu per satu wilayah di Afghanistan jatuh ke tangan Taliban. Terakhir kota Kabul, yang merupakan jantung pemerintahan Afghanistan juga telah berhasil ditaklukkan dan dikuasai oleh Taliban pada Minggu (15/8) lalu.   

Tidak butuh waktu lama bagi Taliban untuk menguasai Afghanistan pasca mundurnya AS dari negara tersebut. Bahkan, ratusan ribu tentara Afghanistan yang diklaim telah dilatih dan dibiayai AS juga tak berkutik melawan pasukan Taliban. Perlawanan pasukan pemerintah berhenti setelah ibu kota Kabul dikuasai Taliban. Taliban juga sudah memasuki kompleks kepresidenan. Presiden Afghanistan Ashraf Ghani telah melarikan diri ke Uni Emirat Arab (UEA). Para pejabat lain juga kabur menyelamatkan diri.  

Pada Kamis (19/8) lalu, Taliban secara resmi telah mendeklarasikan negara baru untuk Afghanistan yang bernama Imarah Islam Afghanistan atau Islamic Emirate of Afghanistan. Pengumuman ini bertepatan pada hari kemerdekaan Afghanistan yang lepas dari penjajahan Inggris pada 102 tahun yang lalu. Dalam pernyataannya, Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid menyatakan segera membentuk pemerintahan baru dan siap bekerja sama dengan komunitas internasional. Mereka juga berkomitmen menjaga hak-hak perempuan di bawah hukum Islam.



Selama 20 tahun bercokol, Paman Sam telah menghabiskan dana yang sangat besar untuk mendukung pemerintahan Afghanistan dalam melawan Taliban. Brown University memperkirakan total pengeluaran AS selama berada di sana sebesar USD2,26 triliun. Ada data lain, yang menyebut AS sudah mengeluarkan Rp30.000 triliun.

Tak hanya materi, Perang Afghanistan yang berkepanjangan juga telah merenggut nyawa sedikitnya 2.500 personel militer AS dan hampir 4.000 orang lebih kontraktor sipil AS tewas. Selain itu, sekitar 69.000 polisi militer Afghanistan juga telah meregang nyawa, 47.000 warga sipil tewas, ditambah 51.000 pejuang oposisi tewas.

Seperti diketahui, tahun 2001, AS dan sekutunya menginvasi Afghanistan yang kala itu diperintah oleh Taliban. Paman Sam menyerang Afghanistan dengan dalih mencari keberadaan Osama Bin Laden, pentolan Al Qaeda, yang dituding sebagai dalang teror serangan 11 September 2001 di AS. Taliban dituduh melindungi Osama. Di bantu negara-negara Barat, AS berhasil menggulingkan Taliban. Namun, Taliban terus bertahan di Kawasan pendalaman bahkan mendapat dukungan masyarakat. Setelah 20 tahun berlalu, AS tidak berhasil menaklukkan Taliban yang terus melakukan perlawanan terhadap AS maupun pemerintah Afghanistan. Bahkan, Taliban semakin kuat.

AS pun menyerah. AS kelelahan terlibat perang Afghanistan yang tidak jelas berakhirnya sampai kapan. Akhirnya diadakanlah pertemuan antara AS dan Taliban di Doha, Uni Emirat Arab (UEA) pada Februari 2021 lalu. Salah satu hasil kesepakatannya adalah AS memutuskan untuk menarik pasukannya secara  bertahap hingga deadline terakhir pada 31 Agustus 2021.

Kondisi Afghanistan hingga saat ini masih dipenuhi ketidakpastian. Banyak kekerasan terjadi di sana. Banyak eksodus dilakukan baik oleh rakyat Afghanistan yang takut terhadap Taliban maupun warga asing. AS mengirimkan ribuan tentara untuk mengevakuasi warganya dari sana. Begitu juga negara-negara lain. AS membantu warga Afghanistan yang ingin pergi dari negaranya. Sejumlah negara sekutu AS siap menampung para pengungsi dari Afghanistan mulai Perancis hingga Kanada.

Yang menarik, di saat negara-negara Barat menolak, China, Iran serta Rusia sudah memberikan sinyal kuat untuk menerima kembalinya Taliban memimpin Afghanistan. Bahkan, China melalui sejumlah pejabatnya sudah menyatakan siap bekerja sama dengan Taliban untuk membangun Afghanistan.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia telah berhasil mengevakuasi WNI keluar dari Afghanistan. Sebanyak 26 WNI telah tiba di Tanah Air pada Sabtu (21/8) dini hari. Selanjutnya mereka menjalani protokol Kesehatan sesuai aturan ketibaan dari luar negeri. Indonesia telah memindahkan sementara operasional KBRI di Kabul ke Islamabad, Pakistan. Indonesia belum mengambil sikap resmi terkait kemenangan Taliban tersebut.

Mengingat masih banyaknya pro kontra terkait kembalinya Taliban menguasai Afghanistan, krisis di sana diperkirakan masih akan berlangsung lama. Bagaimana nasib Afghanistan ke depan di bawah Taliban? Akankah negara tersebut akan selalu dilanda konflik pasca penarikan Pasukan AS dari sana? Perkembangan ini juga bisa disimak di aplikasi RCTI+.

Komentar (0)

komentar terkini

Belum Ada Komentar

Berita Terkait

berita-headline

Viral

Tahun Ini, 635.000 Orang di Afghanistan Terusir dari Rumah

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB atau Office for the Coordination of Humanitarian Affairs
berita-headline

Viral

HTI 'Muncul' Lagi di KPK Setelah G30STWK

Foto bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di meja salah satu pegawai Komisi Pemberantasan Korups
berita-headline

Viral

Dua Ledakan di Luar Bandara Kabul, 13 Meninggal

Dua ledakan terjadi di luar Bandar Udara Internasional Hamid Karzai, Kabul, yang penuh sesak dan
berita-headline

Viral

Isu Bendera Mirip HTI Sengaja Dipolitisir untuk Fitnah 57 Pegawai KPK

Juru Bicara 57 mantan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Hotman Tambunan telah membant
berita-headline

Viral

Media Barat Skeptis dengan Janji Taliban

Dun