Minggu, 26 Juni 2022
26 Dzul Qa'dah 1443

Wall Street Amblas, Indeks S&P 500 Konfirmasi Tren ‘Bearish’

Selasa, 14 Jun 2022 - 08:13 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Wall Street Amblas, Indeks S&P 500 Konfirmasi Tren ‘Bearish’ - inilah.com
Foto: iStockphoto.com

Wall Street jatuh pada penutupan perdagangan Senin atau Selasa (14/6/2022) pagi WIB. Itu terjadi lantaran investor terus membuang aset-aset berisiko di tengah melonjaknya inflasi.

Indeks S&P 500 bahkan mengkonfirmasikan berada di pasar bearish. Tren ini meningkatkan kekhawatiran bahwa kenaikan suku bunga agresif Federal Reserve dapat mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 876,05 poin atau 2,79 persen, menjadi menetap di 30.516,74 poin. Indeks S&P 500 merosot 151,23 poin atau 3,88 persen, menjadi berakhir di 3.749,63 poin. Indeks Komposit Nasdaq terperosok 530,79 poin atau 4,68 persen, menjadi ditutup di 10.809,23 poin.

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor energi dan real estat masing-masing terpangkas 5,13 persen dan 4,78 persen, memimpin penurunan.

Indeks acuan S&P telah jatuh selama empat hari berturut-turut, penurunan beruntun terpanjang dalam tiga bulan, dengan indeks sekarang jatuh 21,8 persen dari rekor penutupan tertinggi terbaru untuk mengkonfirmasi pasar bearish dimulai pada 3 Januari, menurut definisi yang umum digunakan.

Indeks Komposit Nasdaq, yang mengalami penurunan keempat berturut-turut, mengkonfirmasi berada di wilayah pasar bearish pada 7 Maret dan telah turun sekitar 30 persen tahun ini.

Pasar bearish S&P 500 terpanjang berlangsung lebih dari lima tahun, dimulai pada 6 Maret 1937 dan berakhir pada 29 April 1942 sementara yang terpendek berlangsung lebih dari sebulan, dimulai pada 19 Februari 2020 dan berakhir pada 23 Maret 2020, menurut untuk Indeks S&P Dow Jones.

Baca juga
Emas Keok Lantaran Keperkasaan Dolar AS Jelang Pertemuan The Fed

Indeks Komposit Nasdaq, yang mengalami penurunan keempat berturut-turut, mengkonfirmasi berada di wilayah pasar bearish pada 7 Maret dan telah turun sekitar 30 persen tahun ini.

Diperlukan waktu rata-rata lebih dari satu tahun bagi indeks untuk mencapai titik terendahnya selama pasar bearish, dan kemudian kira-kira dua tahun lagi untuk kembali ke level tertinggi sebelumnya, menurut CFRA Research.

Pasar berada di bawah tekanan tahun ini karena kenaikan harga-harga, termasuk lonjakan harga minyak sebagian karena perang di Ukraina, telah menempatkan The Fed di jalur untuk mengambil tindakan tegas untuk memperketat kebijakan moneternya, seperti kenaikan suku bunga.

The Fed dijadwalkan untuk membuat pengumuman kebijakan berikutnya pada Rabu (15/6/2022) dan investor akan sangat fokus pada petunjuk seberapa agresif bank sentral akan menaikkan suku bunga.

Saham kelas berat dengan pertumbuhan tinggi seperti Apple Inc, Microsoft Corp dan Amazon.com Inc merupakan beban terbesar pada S&P 500, karena imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun mencapai 3,44 persen, level tertinggi sejak April 2011. Saham-saham pertumbuhan lebih cenderung melihat pendapatan mereka menderita dalam lingkungan kenaikan suku bunga.

Baca juga
IHSG Terancam Turun setelah Dow Jones Terkapar 4,41 Persen dalam Lima Hari

Data indeks harga konsumen (IHK) yang lebih panas dari perkiraan pada Jumat (10/6/2022) mendorong para pedagang untuk memperkirakan kenaikan suku bunga secara total 175 basis poin (bps) pada September, sementara ekspektasi untuk kenaikan 75 basis poin pada pertemuan Juni telah melonjak menjadi hampir 30 persen dari 3,1 persen seminggu yang lalu, menurut Alat Fedwatch CME.

“Pasar telah mencoba untuk menggalang gagasan bahwa inflasi telah mencapai puncaknya, dan The Fed tidak perlu menjadi lebih agresif,” kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird di Louisville, Kentucky.

“Cerita itu berantakan pada Jumat (10/6/2022) dengan laporan IHK, menunjukkan inflasi luas yang mengakar di mana pun Anda melihat.”

Sementara itu, kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS dua tahun dan 10-tahun terbalik secara singkat untuk pertama kalinya sejak April, yang oleh banyak pasar dilihat sebagai sinyal yang dapat diandalkan bahwa resesi bisa datang dalam satu atau dua tahun ke depan.

Indeks Volatilitas CBOE, juga dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street, melonjak ke level tertinggi sejak 9 Mei di 35,05 sebelum ditutup di 34,02. Namun, banyak analis melihat level tersebut agak tenang dan bisa berarti lebih banyak tekanan jual akan terjadi.

Baca juga
The Fed Fokus Perangi Inflasi, Wall Street Berakhir Keok

“Ini adalah pasar yang tidak terlihat seperti menyerah tetapi frustrasi,” kata Rob Haworth, ahli strategi investasi senior di US Bank Wealth Management di Seattle.

“Bahkan dengan beberapa sekuritas yang dibuang, itu tidak cukup dalam, cukup keras untuk melihat bahwa orang-orang telah mengambil posisi keluar.”

Saham terkait uang kripto dan blockchain, termasuk Riot Blockchain, Marathon Digital Holdings dan Coinbase Global, semuanya jatuh karena bitcoin merosot lebih dari 10 persen setelah perusahaan pemberi pinjaman uang krito utama AS, Celsius Network, membekukan penarikan dan transfer mengutip kondisi “ekstrim”.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 14,98 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,95 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Tinggalkan Komentar