Sabtu, 28 Mei 2022
27 Syawal 1443

Wall Street Berakhir di Zona Merah karena Perang di Ukraina Buat Investor Gelisah

Wall Street Berakhir di Zona Merah karena Perang di Ukraina- inilah.com
Foto: Istockphoto.com

Wall Street berakhir lebih rendah pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat (4/3/2022) pagi WIB. Bursa saham AS itu berbalik melemah setelah naik tajam di sesi sebelumnya.

Saham-saham pertumbuhan termasuk Tesla dan Amazon menekan Nasdaq. Ini lantaran krisis Ukraina membuat investor terus gelisah.

Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,29 persen atau 96,69 poin, menjadi menetap di 33.794,66 poin. Sementara Indeks S&P 500 kehilangan 0,53 persen atau 23,05 poin, menjadi berakhir di 4.363,49 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 1,56 persen atau 214,07 poin, menjadi tutup di 13.537,94 poin.

Tesla anjlok 4,6 persen dan Amazon kehilangan 2,7 persen, keduanya berkontribusi lebih banyak daripada saham lainnya terhadap penurunan tajam Nasdaq.

Indeks saham pertumbuhan S&P 500 turun 1,1 persen, sementara indeks value stocks naik tipis 0,1 persen. Sementara itu, mencerminkan suasana defensif di Wall Street, indeks utilitas S&P 500 menguat 1,7 persen dan real estat naik 1,1 persen.

Baca juga
Volodymyr Zelenskyy: Perundingan Damai Ukraina-Rusia Sudah Lebih Realistis

Dengan invasi Rusia ke Ukraina sekarang seminggu, ratusan tentara Rusia dan warga sipil Ukraina telah tewas, dan Rusia sendiri telah jatuh ke dalam isolasi.

“Pasar sepenuhnya terkunci pada seperti apa gejolak geopolitik ini,” kata Ahli Strategi Investasi Baird, Ross Mayfield, di Louisville, Kentucky.

“Volatilitas kemungkinan akan tetap ada untuk jangka pendek, dan bahkan mungkin jangka menengah. Sebab, saya tidak melihat apa yang dapat investor terima dalam beberapa minggu ke depan untuk Ukraina atau Putin.”

Lonjakan Harga Minyak Picu Inflasi Tinggi

Juga, melonjaknya harga minyak dan komoditas lainnya telah memicu kekhawatiran bahwa inflasi tinggi baru-baru ini. Kondisi ini tergabung dengan pertumbuhan ekonomi yang stagnan. Semua itu mempersulit Federal Reserve (Fed) dan bank sentral utama lainnya untuk mengelola suku bunga.

Baca juga
Dana Asing Minggat Rp6,13 Triliun, Bhima Sebut Ada Faktor Perang Rusia-Ukraina

Persentase fund manager yang memperkirakan apa yang disebut stagflasi dalam 12 bulan ke depan mencapai 30 persen, dibandingkan dengan 22 persen bulan lalu, sebuah survei dari BofA Global Research menunjukkan.

Wall Street melonjak di sesi sebelumnya setelah Ketua Fed Jerome Powell mengatakan dia akan mendukung kenaikan suku bunga seperempat poin pada pertemuan 15-16 Maret, meredakan beberapa kekhawatiran kenaikan yang lebih agresif.

“Kami akan tetap dalam kisaran ketat sampai kami berada di pertemuan Fed dalam dua minggu karena pendapatan terbatas,” prediksi Jay Hatfield, Kepala Investasi Infrastructure Capital Management di New York.

“Tidak ada alasan nyata untuk berlama-lama, kecuali, tentu saja, ada perdamaian atau stabilitas di Ukraina, yang sepertinya tidak mungkin.”

Baca juga
Selamatkan Industri Tekstil di Masa COVID-19, Kemenperin Lakukan Ini

Volume transaksi di bursa AS mencapai 12,6 miliar saham, terendah dalam enam hari, menurut data Refinitiv.

Sementara itu data menunjukkan ukuran aktivitas industri jasa AS turun ke level terendah satu tahun pada Februari dan pekerjaan mengalami kontraksi.

Kroger Co melonjak hampir 12 persen setelah toko bahan makanan itu memperkirakan penjualan dan laba tahunannya meningkat. Ini terdorong oleh permintaan yang kuat untuk layanan penjemputan dan pengiriman dan tren masakan rumahan yang berkelanjutan.

American Eagle Outfitters Inc anjlok 9,3 persen setelah jaringan toko pakaian itu memperkirakan penurunan pendapatan untuk paruh pertama tahun 2022.

Tinggalkan Komentar