Minggu, 04 Desember 2022
10 Jumadil Awwal 1444

Wall Street Kecewa dengan Data Kuartalan dan Panasnya Inflasi

Jumat, 15 Jul 2022 - 07:01 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Wall Street Kecewa dengan Data Kuartalan dan Panasnya Inflasi - inilah.com
Foto: iStockphoto.com

Wall Street beragam pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat (15/7/2022) pagi WIB. Indeks S&P 500 memangkas kerugian awal menjadi ditutup sedikit lebih rendah. Itu setelah investor mencerna hasil kuartalan yang mengecewakan dari dua bank besar AS dan data inflasi yang lebih panas dari perkiraan.

Indeks Dow Jones Industrial Average tergelincir 142,62 poin atau 0,46 persen, menjadi menetap di 30.630,17 poin. Indeks S&P 500 turun 11,40 poin atau 0,30 persen, menjadi berakhir di 3.790,38 poin. Indeks Komposit Nasdaq naik tipis 3,61 poin atau 0,03 persen, menjadi ditutup di 11.251,19 poin.

Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor keuangan dan energi masing-masing melemah 1,92 persen dan 1,9 persen, memimpin penurunan. Sementara itu, sektor teknologi naik 0,93 persen, merupakan kelompok dengan kinerja terbaik.

Awalnya, ketiga indeks saham utama AS dilanda aksi jual tajam setelah perolehan laba kuartal kedua dari JPMorgan Chase & Co. dan Morgan Stanley, Keduanya melaporkan laba merosot dan memperingatkan perlambatan ekonomi yang akan datang.

Baca juga
Era Inflasi Tinggi, Perang Suku Bunga Bank Sentral Eropa Versus The Fed

Kerugian menyempit saat sesi berlanjut, dengan kenaikan saham microchip membantu mendorong indeks Komposit Nasdaq ke kenaikan nominal.

“Ada tanggapan irasional terhadap hasil JPMorgan dan Morgan Stanley,” kata Jay Hatfield, kepala eksekutif dan manajer portofolio di InfraCap di New York. “Tidak mengherankan bahwa perbankan investasi lemah.”

“JPMorgan memperingatkan bahwa ada ketidakpastian di pasar, tetapi jika Anda hidup dan bernafas, Anda tahu ada ketidakpastian di pasar.”

CEO JPMorgan Jamie Dimon memberikan catatan yang hati-hati tentang ekonomi global sementara unit perbankan investasi Morgan Stanley berjuang untuk mengatasi kemerosotan dalam pembuatan kesepakatan global.

Saham JPMorgan Chase dan Morgan Stanley masing-masing turun 3,5 persen dan 0,4 persen, sedangkan indeks S&P Bank jatuh 2,4 persen.

Kekhawatiran perlambatan diperburuk karena laporan Indeks Harga Produsen Departemen Tenaga Kerja menggemakan data Indeks Harga Konsumen Rabu (13/7/2022), menunjukkan inflasi yang lebih panas dari perkiraan pada Juni.

Aksi jual mulai mereda setelah Gubernur Fed Christopher Waller mengatakan dia mendukung kenaikan suku bunga 75 basis poin lagi pada Juli, meredakan kegelisahan atas kenaikan 100 basis poin yang bahkan lebih besar.

Baca juga
Ramalan Ekonomi 2023 Bank Dunia Bikin Ngeri

“The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 tetapi seharusnya tidak,” kata Hatfield. “The Fed telah melakukan banyak hal untuk mengurangi inflasi tetapi mereka tidak akan menyadarinya sampai mereka melihat kesulitan.”

“Hal yang perlu diingat tentang The Fed adalah seolah-olah mandat ketiga mereka adalah berada di belakang kurva,” tambah Hatfield.

Pada Rabu (13/7/2022), kemungkinan kenaikan suku bunga yang lebih besar meningkat setelah laporan IHK, mengingat niat bank sentral untuk secara agresif mengatasi inflasi yang tinggi selama beberapa dekade – sebuah prospek yang meningkatkan kemungkinan kontraksi ekonomi.

“Akan ada resesi tetapi yang ringan,” kata Oliver Pursche, wakil presiden senior di Wealthspire Advisors, di New York. “Komponen kuncinya adalah kekuatan yang berkelanjutan di pasar tenaga kerja. Mengingat posisi kita dalam gambaran ketenagakerjaan, itu bukan ancaman langsung.”

Inflasi inti, yang menghapus harga makanan dan energi, terus mereda dari puncak Maret, meskipun tetap jauh di atas target rata-rata tahunan bank sentral 2,0 persen.

Baca juga
Menguji Kesaktian IHSG setelah Dow Jones Jatuh 2025 Poin dalam Enam Hari

Dengan musim laporan keuangan resmi berlangsung, analis memperkirakan agregat pertumbuhan laba kuartal kedua tahun-ke-tahun S&P 500 sebesar 5,1 persen, jauh lebih rendah dari perkiraan 6,8 persen pada awal kuartal, menurut Refinitiv.

Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing yang tercatat di AS naik 2,9 persen mengikuti panduan pendapatan optimis pembuat chip. Conagra Brands jatuh 7,2 persen setelah mengeluarkan perkiraan laba tahunan yang berada di bawah perkiraan.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 10,86 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 12,48 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

Tinggalkan Komentar