Rabu, 30 November 2022
06 Jumadil Awwal 1444

Wall Street Menari di Atas Penderitaan Data Pertumbuhan Ekonomi AS

Jumat, 29 Jul 2022 - 07:07 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Wall Street Menari di Atas Penderitaan Data Pertumbuhan Ekonomi AS - inilah.com
Foto: iStockphoto.com

Wall Street menguat tajam pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat (29/7/2022) pagi WIB. Ini membukukan kenaikan untuk hari kedua berturut-turut. Sebab, laporan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang suram memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (Fed) mungkin tidak perlu menaikkan suku bunga secara agresif seperti yang dikhawatirkan sebelumnya.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 332,04 poin atau 1,03 persen, menjadi menetap di 32.529,63 poin. Indeks S&P 500 bertambah 48,82 poin atau 1,21 persen, menjadi berakhir di 4.072,43 poin. Indeks Komposit Nasdaq terangkat 130,17 poin atau 1,08 persen, menjadi ditutup pada 12.162,59 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor real estat dan utilitas masing-masing melonjak 3,7 persen dan 3,53 persen, melampaui sektor lainnya. Sementara itu, sektor jasa-jasa komunikasi tergelincir 0,73 persen, satu-satunya kelompok yang menurun.

Baca juga
Ekonomi Indonesia Aman, tapi Waspadai Laju Inflasi

Reaksi pasar di atas muncul meskipun data menunjukkan ekonomi AS mengalami kontraksi pada kuartal kedua. PDB AS menyusut pada tingkat tahunan 0,9 persen dalam periode tersebut setelah mencatat kontraksi 1,6 persen pada kuartal pertama, Departemen Perdagangan melaporkan pada Kamis (28/7/2022). Para ekonom yang disurvei oleh The Wall Street Journal memperkirakan kenaikan 0,3 persen.

Berita itu meningkatkan kemungkinan bahwa ekonomi berada di puncak resesi, dan beberapa investor mengatakan itu mungkin menghalangi The Fed untuk terus menaikkan suku bunga secara agresif ketika memerangi inflasi yang tinggi.

Imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun mundur mengikuti data ekonomi. Penurunan imbal hasil mungkin menunjukkan “bahwa pasar berpikir The Fed harus berputar dan menurunkan suku bunga di beberapa titik, mungkin dalam periode 12 bulan ke depan,” kata Ahli Strategi Investasi Senior Edward Jones, Mona Mahajan.

Baca juga
Jaga Rupiah, BI Wajib Hadir di Pasar dengan Intervensi Rangkap Tiga

“Itu menyiratkan langkah pengetatan akan menjadi lebih bertahap ke depan.”

Investor juga menilai jalur kenaikan suku bunga The Fed, Bank sentral AS itu pada Rabu (27/7/2022) menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin, yang kedua berturut-turut sebesar itu, dalam upaya untuk menjinakkan inflasi yang berjalan pada level tertinggi empat dekade.

Ketua Fed Jerome Powell memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga “luar biasa besar” lainnya mungkin diperlukan pada pertemuan berikutnya pada September, tetapi mencatat bahwa ini akan tergantung pada data ekonomi yang akan datang.

Investor telah menyatakan keprihatinan bahwa inflasi dan kenaikan suku bunga Fed yang agresif pada titik tertentu dapat mengarahkan ekonomi ke dalam resesi.

Tinggalkan Komentar