Sabtu, 01 Oktober 2022
05 Rabi'ul Awwal 1444

Wall Street Reli karena Inflasi AS Melandai

Kamis, 11 Agu 2022 - 07:12 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Wall Street Reli karena Inflasi AS Melandai - inilah.com
(Foto: iStockphoto.com)

Wall Street menguat pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis (11/8/2022) pagi WIB. Nasdaq dan S&P 500 melonjak lebih dari dua persen setelah data yang menunjukkan inflasi AS melambat lebih dari yang diperkirakan pada Juli.

Hal itu meningkatkan harapan Federal Reserve akan menjadi kurang agresif pada kenaikan suku bunganya.

Indeks Dow Jones Industrial Average terangkat 535,1 poin atau 1,63 persen, menjadi menetap di 33.309,51 poin. Indeks S&P 500 bertambah 87,77 poin atau 2,13 persen, menjadi berakhir di 4.210,24 poin. Indeks Komposit Nasdaq melonjak 360,88 poin atau 2,89 persen, menjadi ditutup pada 12.854,81 poin.

Reli di Wall Street berbasis luas, dengan semua 11 sektor S&P 500 berakhir di zona hijau. Ini adalah kenaikan satu hari terbesar untuk Nasdaq dan S&P 500 dalam dua minggu terakhir, dan untuk Dow dalam tiga minggu, dan merupakan penutupan tertinggi untuk S&P 500 sejak awal Mei.

Penurunan tajam dalam biaya bensin membantu Indeks Harga Konsumen (IHK) AS tetap datar bulan lalu setelah naik 1,3 persen pada Juni, kata Departemen Tenaga Kerja pada Rabu (10/8/2022). IHK naik kurang dari yang diperkirakan 8,5 persen selama 12 bulan terakhir setelah kenaikan 9,1 persen pada Juni.

Baca juga
Pertama sejak 2018, the Fed Kerek Naik Suku Bunga Acuan agar Inflasi Jinak

Data tersebut merupakan tanda pertama yang melegakan bagi orang Amerika yang telah menyaksikan inflasi terus naik dalam dua tahun terakhir.

Pedagang berjangka dana Fed sekarang menilai hanya peluang 43,5 persen bahwa bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin ketika bertemu pada September, dibandingkan dengan 68 persen sebelum data. Kenaikan 50 basis poin dipandang sebagai probabilitas 56,5 persen.

“Untuk pasar, ini semacam skenario Goldilocks sekarang karena Anda memiliki pasar tenaga kerja yang bertahan dan inflasi yang berpotensi mulai turun. Seperti itulah soft landing,” kata Shawn Snyder, kepala strategi investasi di Citi U.S. Wealth Management di New York.

Tetapi satu bulan inflasi yang melambat tidak cukup bagi Fed untuk mengirim sinyal yang jelas, kata Snyder.

“Mereka perlu melihat tren yang berkelanjutan, dan bahkan beberapa, untuk memoderasi kebijakan moneter yang berpotensi menyebabkan resesi,” katanya.

“(Inflasi) 8,5 persen masih sangat tinggi, tetapi ada optimisme bahwa mungkin Juni adalah puncaknya,” kata Randy Frederick, wakil presiden perdagangan dan derivatif untuk Charles Schwab.

Data harga produsen untuk Juli pada Kamis bersama dengan inflasi Agustus dan data ketenagakerjaan untuk rilis bulan depan dapat mengubah arah Fed lagi, kata Frederick.

Baca juga
Rupiah Hanya Menanjak Tipis di Tengah Sentimen Rilis Data Inflasi AS

The Fed telah menaikkan suku bunga kebijakannya sebesar 225 basis poin sejak Maret meskipun ada kekhawatiran kenaikan tajam dalam biaya pinjaman dapat mengarahkan ekonomi AS ke dalam resesi.

Perlambatan inflasi adalah pembacaan “positif” pertama pada tekanan harga sejak Fed mulai mengetatkan kebijakan, Presiden Fed Chicago Charles Evans mengatakan, bahkan ketika dia mengisyaratkan dia percaya bahwa Fed memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Setelah awal yang sulit untuk tahun ini, indeks acuan S&P 500 naik hampir 15 persen dari posisi terendah pertengahan Juni, sebagian besar karena ekspektasi The Fed akan kurang hawkish daripada yang diantisipasi dalam upayanya untuk memberikan soft landing bagi ekonomi karena berjuang mengekang inflasi.

Indeks Volatilitas CBOE, pengukur ketakutan Wall Street, turun di bawah level 20,00, mencapai level terendah sejak April.

Saham-saham teknologi dengan pertumbuhan tinggi dan berkapitalisasi besar, yang valuasinya rentan terhadap kenaikan imbal hasil obligasi, naik karena imbal hasil obligasi pemerintah turun tajam secara keseluruhan. Apple Inc, Alphabet Inc, Amazon.com Inc dan Microsoft Corp semuanya masing-masing naik lebih dari 2,0 persen.

Baca juga
Wall Street Berpesta Pora Respons Kenaikan Suku Bunga The Fed

Saham perbankan yang sensitif terhadap ekonomi naik 2,7 persen, dengan Goldman Sachs Group Inc dan Morgan Stanley masing-masing melonjak sekitar 3,0 persen.

Tesla Inc naik 3,9 persen setelah Elon Musk menjual saham senilai 6,9 miliar dolar AS di pembuat kendaraan listrik itu untuk membiayai kesepakatan potensial dengan Twitter Inc, jika ia kalah dalam pertempuran hukum dengan platform media sosial. Twitter naik 3,7 persen.

Meta Platforms Inc melonjak 5,8 persen setelah induk Facebook itu mengatakan pada hari Selasa (9/8/2022) bahwa pihaknya telah mengumpulkan 10 miliar dolar AS dalam penawaran obligasi pertama kalinya.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 11,33 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 10,98 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Tinggalkan Komentar