Senin, 16 Mei 2022
15 Syawal 1443

Warga AS Banyak Kena PHK, Presiden Biden Pening Tunjangan Pengangguran Naik

Warga AS Banyak Kena PHK, Presiden Biden Pening Tunjangan Naik
Presiden AS Joe Biden

Hari-hari ini, Presiden AS Joe Biden dibikin pusing masalah pengangguran. Semakin banyak warga AS yang kena Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK.

Hal itu ditengarai dari lonjakan proposal permohonan tunjangan pengangguran sejak pekan lalu. Meski, jumlah penerima tunjangan pengangguran di Amerika Serikat (AS), tergolong rendah dalam 50 tahun terakhir.

Departemen Tenaga Kerja Negeri Paman Sam itu, melaporkan, klaim pengangguran naik 19.000 menjadi 200.000 pada minggu terakhir di bulan April. Mereka yang baru pertama kali mengajukan permohonan tunjangan pengangguran ini mencerminkan jumlah PHK yang terjadi.

Klaim rata-rata selama empat minggu lalu, yang melunakkan sebagian kerentanan mingguan, naik 8.000 klaim dari minggu sebelumnya, menjadi 188.000. Demikian dikutip dari VOA Indonesia, Sabtu (7/5/2022).

Baca juga
Era Digital, Menko Airlangga Ingin Milenial Jadi Job Creator

Pekerja Amerika merasakan tingkat ketersediaan lapangan kerja yang kuat secara historis, dua tahun setelah pandemi virus corona yang membuat perekonomian mengalami resesi singkat.

Jumlah orang yang mengajukan tunjangan pengangguran di sebagian besar pada tahun ini, masih secara konsisten berada di tingkat pra-pandemi yaitu 225.000 orang, bahkan ketika ekonomi secara keseluruhan mulai berkontraksi.

Biro Statistik Tenaga Kerja, melaporkan perusahaan-perusahaan di AS mencatat rekor 11,5 juta lowongan pekerjaan pada bulan Maret lalu, atau berarti ada dua lapangan pekerjaan baru untuk setiap orang yang menganggur.

Namun, ada satu rekor yang mencengangkan ketika 4,5 juta orang berhenti dari pekerjaan mereka Maret lalu, yang merupakan isyarat bahwa mereka yakin dapat menemukan pekerjaan dengan gaji atau kondisi yang lebih baik di tempat lain.

Baca juga
AS Izinkan Pengunjung Internasional yang Sudah Divaksin

Selama setahun terakhir ini, para pengusaha telah menambah rata-rata lebih dari 540.000 lapangan pekerjaan baru per bulan, mendorong tingkat pengangguran turun menjadi 3,6%.

Survei perusahaan FactSet memperkirakan Departemen Tenaga Kerja akan melaporkan bahwa ekonomi menghasilkan 400.000 lapangan pekerjaan baru April 2022. Hal ini menandai bulan ke-12 berturut-turut di mana terjadi perekrutan hingga 400.000 lapangan pekerjaan baru atau lebih, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Satu-satunya hal yang lebih kontroversial di pasar tenaga kerja saat ini adalah inflasi. Bank Sentral AS (The Fed) mengintensifkan perlawanan terhadap inflasi terburuk dalam 40 tahun dengan menaikkan suku bunga acuan jangka pendek setengah poin persentase.

Baca juga
Kabar Baik dari BI, Bisnis Siap Tancap Gas di Triwulan I-2022

Kebijakan The Fed ini menjadi langkah yang paling agresif sejak tahun 2000, dan menandai kenaikan suku buka lebih lanjut pada masa-masa mendatang.

Tinggalkan Komentar