Minggu, 02 Oktober 2022
06 Rabi'ul Awwal 1444

Waspada Distorsi Kasus Brigadir J, Pengaburan Fakta dari Pengakuan Bharada E

Rabu, 17 Agu 2022 - 14:28 WIB
Kapolri Sigit - inilah.com
Kapolri Sigit

Penanganan perkara pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat (Brigadir J) masih dibayangi distorsi pengaburan fakta dari pengakuan Bharada Richard Eliezer (Bharada E). Meskipun penanganannya sudah ada kemajuan dengan penersangkaan Irjen Ferdy Sambo serta puluhan anggota dijerat kasus etik, tindakan tersebut belum mampu meredam kekhawatiran penelikungan fakta dalam kasus yang sedari awal penuh kejanggalan ini.

Ferdy Sambo sejatinya sudah mengakui merancang pembunuhan terhadap ajudannya sendiri. Namun tidak mengaku turut menembak. Pengakuan disampaikan ketika eks Kadiv Propam Polri secara remsi menjadi penghuni Mako Brimob. Sumber Inilah.com mengungkapkan, atas pengakuan Bharada E yang lebih dulu ditersangkakan, Timsus Polri akhirnya menjerat Ferdy Sambo dan dua orang anak buahnya yang lain yakni Bripka Ricky Rizal dan seorang sipil Kuat Maruf.

Langkah penetapan tersangka tidaklah mudah. Banyak drama yang menyertainya, dimulai dari ancaman timsus mundur apabila temuan yang didapat dari hasil penyelidikan tidak ditindaklanjuti Kapolri Jenderal Listyo Sigit. Timsus yang diketuai Irwasum Komjen Pol Agung Budi telah memiliki bukti kuat indikasi pidana berupa perusakan alat bukti di TKP rumah dinas Kadiv Propam Polri, Duren Tiga.

Indikasi pidana itu dibalut dalam kasus etik. Belakangan berdasarkan hasil pemeriksaan Bharada E secara maraton 2×24 jam, tamtama itu tak kuat lagi menahan kebohongan. Brigadir J tewas bukan karena kontak senjata tetapi ditembak oleh Ferdy Sambo.

Dua orang perwira tinggi yang salah satunya Kabaintelkam Ahmad Dofiri membawa Bharada E menghadap Kapolri ke rumah dinas di Jl Pattimura, Jumat (5/8/2022) malam. Skenario penangkapan dipimpin Danko Brimob sudah disiapkan. Namun dibatalkan menjaga situasi tidak keruh. Pemeriksaan terhadap Jenderal Sambo dilakukan pada Sabtu (6/8/2022), hingga akhirnya ditempatkan di Mako Brimob.

“Pati Polri berinisiatif untuk melakukan penindakan tanpa sepengatahuan Kapolri. Ini dilakukan demi institusi,” kata sumber itu.

Pengakuan Bharada E terkonfirmasi dari keterangan Bripka Ricky. Sumber Inilah.com mengungkapkan sang ajudan melihat Ferdy Sambo keluar dari kamar di rumah dinas Kadiv Propam mengenakan sarung tangan hitam sambil menenteng senjata api. Kabarnya, konferensi pers penetapan tersangka Ferdy Sambo harus diundur lantaran Kapolri meminta penyidik mencari terlebih dulu senjata api dan sarung tangan itu. Maka penggeledahan di tiga rumah dilakukan dengan pengawalan Brimob.

Rupanya informasi ini sudah bukan barang baru lagi. Aktivis Irma Hutabarat mengaku sudah mendengar keterangan-keterangan itu. “Dia (Bharada E) dibawa ke Kapolri dan dia mengaku di depan Kapolri. Jadi, Pak Kapolri sudah tahu kalau Sambo yang menembak,” tuturnya.

Sumber lain mengungkapkan, proses pemeriksaan dari autopsi ulang menemukan adanya satu luka di bagian belakang kepala Brigadir J akibat tembakan jarak dekat. “Hanya satu tembakan tetapi peluru pecah dua di bagian dalam,” ungkapnya.

Hasil pemeriksaan awal jasad Brigadir J menunjukkan adanya peluru yang diletuskan selain Glock 17 yakni, HS 45 mm. Timsus Polri sejauh ini belum mengonfirmasi temuan alat bukti senjata termasuk sarung tangan hitam dalam pengusutan perkara Brigadir J.

Menko Mahfud MD mengakui kasus Brigadir J bukan kriminal biasa. Ada psiko-hierarkis dan psiko-politis sehingga butuh kesabaran dalam pengungkapannya. Belakangan LPSK menetapkan status pelaku bekerja sama (justice collaborator) kepada Bharada E. Alasannya untuk melindungi yang bersangkutan agat bisa menyampaikan kesaksian di muka persidangan tanpa adanya intervensi.

Ketika ditanya wartawan lagi soal kasus ini, Presiden Jokowi nampak gundah dengan kinerja Kapolri Sigit. Dia merasa semua instruksi sudah disampaikan dan tak mau terlalu sering membicarakan kasus Brigadir J. “Tanyakan ke Kapolri. Saya sudah keseringan menyampaikan mengenai hal itu. Tanyakan ke Kapolri, karena sudah jelas semuanya,” kata Jokowi di Istana, Jumat (12/8/2022) yang lalu.

Mungkinkah kasus ini bakal terungkap tuntas?

Tinggalkan Komentar