Kamis, 06 Oktober 2022
10 Rabi'ul Awwal 1444

YLKI Minta Penjual Asing di e-commerce Berbadan Hukum Indonesia

Sabtu, 09 Jul 2022 - 16:01 WIB
YLKI Minta Penjual Asing di e-commerce Berbadan Hukum Indonesia
Ilustrasi Ecommerce/ist

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia atau YLKI meminta para penjual asing di e-commerce harus berbadan hukum Indonesia. Mereka harus mengikuti aturan hukum yang berlaku di Indonesia.

“Yang selama ini banyak terjadi adalah penjualnya ada di luar negeri dan melakukan transaksi dengan konsumen Indonesia melalui e-commerce asing yang ada di Indonesia,” kata Pengurus Harian YLKI, Sudaryatmo lewat keterangannya diterima di Jakarta, Sabtu (9/7/2022).

Menurutnya, hal tersebut masuk kategori impor, di mana seharusnya penjualnya ada di Indonesia.

“Jadi kalau ada masalah, konsumen bisa langsung membuat aduan, bukan ke platform seperti selama ini. Dengan begitu, ini akan lebih fair untuk konsumen,” kata Sudaryatmo.

Baca juga
Soal Kelangkaan Migor, Kinerja Puan Jadi Sorotan

Pemerintah Indonesia perlu tegas dalam mengawasi perdagangan di platform e-commerce. Menurutnya, aturan ini sangat penting terutama dalam kaitannya dengan perlindungan konsumen.

“Para seller asing yang menjual produk di e-commerce ini harus berbadan hukum di Indonesia sehingga kalau ada apa-apa bisa minta pertanggungjawaban ke negara. Dalam hal ini, konsumen akan terlindungi saat melakukan transaksi. Penjual dari luar negeri ini juga bisa dikenai pajak, jadi ada pemasukan untuk negara,” tuturnya.

Pakar e-Commerce Hadi Kuncoro juga mengungkapkan, pentingnya perlindungan konsumen dalam perdagangan elektronik. Hal itu mutlak harus diberikan oleh platform e-commerce.

“Wajib ada. Kalau dulu kan contact center ya, sekarang ini ada tambahan pengaduan melalui digital, jadi semakin memperkuat,” ungkapnya.

Baca juga
PCR Jadi Beban Rakyat, Pemerintah Harus Transparan Soal Harga

Hadi mengatakan, perlindungan konsumen perlu dilakukan pada seluruh produk, terutama untuk produk-produk yang digunakan pada tubuh seperti kosmetik, maupun yang dikonsumsi seperti vitamin.

“Penyelenggara e-Commerce harus ikut bertanggung jawab dan memastikan barang tersebut memiliki izin edar. Kementerian Perdagangan juga harus melakukan pengawas. Kalau obat, BPOM harus ikut masuk,” katanya. [ipe]

Tinggalkan Komentar