Minggu, 27 November 2022
03 Jumadil Awwal 1444

Yuan China di Level Terendah 14 Tahun, Rupiah Longsor ke 15.260 per Dolar AS

Rabu, 28 Sep 2022 - 15:13 WIB
Penulis : Ahmad Munjin
Rupiah Rapuh di Tengah Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed - inilah.com
(Foto: Inilah.com/Didik Setiawan)

Bersama mata uang Asia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) longsor menembus level psikologis 15.200 per dolar AS. Ekspektasi kenaikan agresif suku bunga The Fed menjadi biang keroknya.

Mengacu pada platform trading Indo Premier Sekuritas Rabu (28/9/2022) siang, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 140 poin atau 0,93% ke posisi 15.260 per dolar AS. Level tersebut merupakan yang terlemah sejak April 2020.

Namun, pelemahan rupiah tak terjadi sendirian. Mayoritas mata uang utama Asia juga terpuruk termasuk yuan China yang jeblok ke level terlemah dalam 14 tahun terakhir.

Sementara itu yuan China jeblok 0,65% ke CNY 7,229 per dolar AS yang merupakan level terlemah sejak awal 2008.

Baca juga
Rupiah ‘Tertatih-tatih’ Dihantui Pengetatan Moneter Agresif The Fed

Kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang diperkirakan akan semakin agresif membuat rupiah, yuan dan mata uang Asia lainnya terpuruk.

Analis dari Wells Fargo memperkirakan, kenaikan suku bunga The Fed akan semakin tinggi. Perkirakan itu bahkan kini mencapai kenaikan sekitar 175 bps. Padahal sebelumnya, Wells Fargo memperkirakan kenaikan 100 basis poin antara sekarang dan awal tahun depan.

Para analis Wells Fargo memperkirakan suku bunga akan mencapai 4,75%-5,00% pada kuartal pertama 2023, termasuk kenaikan 75 bps pada pertemuan 2 November dan kenaikan 50 bps pada pertemuan kebijakan 14 Desember.

“Ekonomi menunjukkan tanda-tanda ketahanan, yang akan memerlukan lebih banyak pengetatan moneter untuk cukup memperlambat pertumbuhan untuk membawa inflasi kembali ke target Fed 2%,” kata para analis, yang dipimpin oleh kepala ekonom Jay Bryson yang dikutip dari Reuters.

Baca juga
Inilah Saham Pilihan Saat IHSG Menanjak ke 7.550 di Akhir Tahun

Sementara itu, longsornya nilai tukar yuan menjadi perhatian bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC). PBoC kemarin mengumumkan kenaikan risk reserve requirement ratio untuk institusi finansial yang akan membeli valuta asing melalui kontrak forward menjadi 20% dari sebelumnya 0%, dan dimulai Rabu ini.

Namun, pelaku pasar melihat aksi China untuk menstabilkan yuan tersebut, justru sebagai sinyal ada kekhawatiran yang lebih besar dari melonjaknya nilai tukar dolar AS. Hal ini justru membuat yuan semakin dihantam sentimen negatif yang membuatnya semakin jeblok.

Sepanjang 2022 (year to date) rupiah tercatat melemah sekitar 7%. Sementara yuan China tercatat jeblok nyaris 14% melawan dolar AS.

Tinggalkan Komentar