AdvertisementAdvertisement
Selasa, 10 Maret 2026 | 20 Ramadan 1447
main-logo

main-logo
inilah.commarketfinanceAPBN Masih Kuat Tanggung Subsidi, Belum Ada Rencana Naikkan Harga BBM

APBN Masih Kuat Tanggung Subsidi, Belum Ada Rencana Naikkan Harga BBM

Clara Medium.jpeg
Senin, 9 Maret 2026 - 20:33 WIB
Share
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3/2026). (Foto: Inilah.com/Clara).

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3/2026). (Foto: Inilah.com/Clara).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung
Ukuran Font
KecilBesar

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM subsidi meskipun harga minyak dunia telah menembus USD 113 per barel. Menurutnya, posisi APBN saat ini masih sanggup menanggung beban subsidi.

"Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk merubah subsidi BBM. Dalam pengertian naikin harga BBM. Karena kita lihat seperti apa kondisinya ke depan," ujar Purbaya di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Purbaya menjelaskan, lonjakan harga minyak global saat ini masih bersifat fluktuasi harian, bukan rata-rata tahunan. Pemerintah akan memantau perkembangan harga dalam satu bulan ke depan untuk menentukan langkah kebijakan yang tepat.

"Jadi jangan terlalu cepat-cepat oh judge ini judge itu. Kita lihat kondisi seperti apa, nanti setelah sebulan kita prediksi harga minyak seperti apa sehingga kita bisa ngambil kebijakan yang pas," kata Purbaya.

Ia meminta masyarakat tidak panik dan memercayakan pengelolaan anggaran kepada pemerintah. Purbaya optimistis pengalaman masa lalu dalam menghadapi tingginya harga minyak menjadi modal penting.

"Anda percaya aja, saya cukup pintar kok. Kita sudah ngalamin harga minyak tinggi berapa kali kan, banyak. Enggak hancur negaranya kan. Kenapa? Karena kebijakannya pas," tambahnya.

Terkait asumsi makro dalam APBN, Purbaya menyatakan masih memantau eskalasi konflik AS-Iran. Saat ini, asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok pada angka USD 70 per barel. Meski ada selisih lebar, ia menilai belum saatnya mengambil keputusan drastis.

"Jadi kita lihat apakah itu bagus apa jelek ke ekonomi. Tapi sekarang belum saatnya ngambil keputusan. Karena uangnya masih cukup," tegasnya.

Diketahui, pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026), harga minyak Brent resmi mendarat di posisi US$93,34 per barel, melesat tajam 9,3 persen.

Kondisi West Texas Intermediate (WTI) bahkan lebih liar. Minyak mentah AS ini ditutup pada US$90,9 per barel setelah melonjak 12,21 persen dalam sehari. Lonjakan mingguan WTI yang mencapai 35,6 persen ini adalah rekor terbesar sejak kontrak berjangka dimulai pada 1983 alias 43 tahun silam. Investor kini dalam posisi siaga satu, memelototi rantai pasok energi global yang makin terjepit perang, sementara Indonesia harus pintar-pintar menjaga napas APBN.
 

0 suka
0 bookmark
Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com