Minyak Dunia Tembus US$113/Barel Bikin Bengkak Defisit Rp292 Triliun, Purbaya Jamin BBM Subsidi tak Naik

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/2/2026). (Foto: ANTARA/Maria Cicilia Galuh).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menurut perhitungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tiap kenaikan harga minyak mentah (crude oil) 1 dolar AS menambah defisit anggaran Rp6,8 triliun.
Saat ini, harga minyak dunia tembus US$113 per barel, atau lebih mahal US$43 ketimbang patokan ICP dalam APBN 2026 yang ditetapkan US$70 per barel.
Artinya, terjadi pembengkakan defisit anggaran sebesar Rp292,4 triliun. Angka yang cukup besar. Namun demikian, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa meyakini anggaran masih aman.
Pemerintah, kata dia, masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak naik. "Kita belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM, dalam pengertian, menaikkan harga BBM. Kita akan lihat dulu seperti apa kondisinya," kata Purbaya di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Dia menjelaskan, otoritas fiskal tidak ingin mengambil keputusan yang tergesa-gesa terkait harga BBM di dalam negeri. Meski volatilitas pasar yang bergerak cepat pada saat ini. Pemerintah akan terus memantau pergerakan harga komoditas energi secara cermat.
Jika kenaikan harga minyak dunia terus berlanjut dan membebani APBN 2026, kata dia, evaluasi menyeluruh bisa jadi akan dilakukan. Menyangkut harga BBM, pemerintah tidak mau gegabah. Karena dampaknya cukup dahsyat karena menyangkut daya beli masyarakat yang belum pulih. "Nanti kalau setelah sebulan semuanya berubah, kita akan evaluasi," tambahnya.
Saat ini, kata Purbaya, pemerintah terus mengkaji efektivitas penyaluran subsidi di lapangan. "Banyak masyarakat yang membayar dengan harga subsidi. Jadi, kita lihat apakah itu bagus atau jelek ke ekonomi. Tapi sekarang belum saatnya ambil keputusan, karena uangnya [anggaran] masih cukup," tutup Purbaya.
Informasi saja, berdasarkan data Bloomberg, harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026), sekitar pukul 09.20 WIB. Misalnya, harga minyak jenis Brent mencapai US$113,68 per barel. Sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$113,25 per barel. Lonjakan ini memperpanjang reli ekstrem yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Pergerakan harga minyak ini, mengalami percepatan alias di luar prediksi. Semuanya buntut perang Iran yang dikeroyok zionis Israel yang didukung AS.
Pada 25 Februari 2026, harga minyak Brent masih berada di level US$70,85 per barel. Selanjutnya naik menjadi US$72,48 pada 27 Februari 2026. Kemudian naik lagi menjadi US$77,74 pada 2 Maret 2026. Dan, naik lagi ke US$81,4 per barel pada dua hari kemudian.
Selanjutnya mengalami reli tajam ke level US$85,41 per barel pada 5 Maret 2026, bergerak naik lagi ke US$92,69 pada hari selanjutnya. Akhirnya dibanderol US$113,68 per barel pada hari ini.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
