Ogah Buru-buru Rombak APBN, Purbaya Masih Monitor Harga Minyak dalam Sebulan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3/2026). (Foto: Inilah.com/Clara).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Meluasnya konflik Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang berujung penutupan Selat Hormuz memaksa harga minyak mentah dunia terbang ke level yang tak masuk akal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun mulai pasang kuda-kuda.
Opsi merombak Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kini sudah di atas meja, mengingat harga minyak mentah sempat menyentuh USD113 per barel. Namun, Purbaya emoh buru-buru ambil langkah drastis.
"Kan yang saya bilang tadi, saya akan evaluasi selama 1 bulan ke depan apa yang terjadi dan kita akan lakukan adjustment seperlunya," ujar Purbaya saat ditemui di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Meski pasar global sedang kacau balau, Purbaya mengklaim ekonomi domestik masih dalam mode ekspansi. Belum ada tanda-tanda aktivitas ekonomi dalam negeri loyo dihantam kenaikan harga emas hitam tersebut.
"Jadi temen-temen yang lain jangan cepet-cepet memastikan atau menyimpulkan harga akan 100 terus, bahkan ada yang bilang menuju 150, dan kita anggarannya akan nggak kuat. Kita akan assess terus dari waktu ke waktu," jelas dia.
Bukan sekadar memantau, Kemenkeu rupanya sudah melakukan stres test untuk mengukur seberapa kuat APBN menahan beban jika defisit melebar. Dalam hitungannya, Purbaya menggunakan rata-rata tahunan, bukan fluktuasi harian yang liar.
Jika rata-rata harga minyak mentah setahun nangkring di angka USD 92 per barel, defisit APBN diprediksi bakal menjebol batas aman 3 persen, tepatnya meroket ke 3,6 persen PDB.
"Hitungan kita kan berubah-berubah terus sesuai dengan keadaan. 92 saja kan rata-rata sekarang berapa? Belum 100 kan sekarang rata-ratanya. Jadi masih di bawah itu. Jadi masih tenang-tenang dulu yang jelas kita monitor dari waktu ke waktu dan saya nggak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan," tegas dia.
Purbaya menjamin, andai pun ada penyesuaian (alias adjustment) kebijakan, ia bakal memastikan mesin pertumbuhan ekonomi tidak mogok di tengah jalan.
"Tapi yang jelas kita cukup pintar, adjustment yang dilakukan tidak akan mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi," tuturnya.
Kekhawatiran pasar memang beralasan. Pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026), harga minyak Brent resmi mendarat di posisi US$93,34 per barel, melesat tajam 9,3 persen.
Kondisi West Texas Intermediate (WTI) bahkan lebih liar. Minyak mentah AS ini ditutup pada US$90,9 per barel setelah melonjak 12,21 persen dalam sehari. Lonjakan mingguan WTI yang mencapai 35,6 persen ini adalah rekor terbesar sejak kontrak berjangka dimulai pada 1983 alias 43 tahun silam. Investor kini dalam posisi siaga satu, memelototi rantai pasok energi global yang makin terjepit perang, sementara Indonesia harus pintar-pintar menjaga napas APBN.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
