AdvertisementAdvertisement
Selasa, 10 Maret 2026 | 20 Ramadan 1447
main-logo

main-logo
inilah.commarketbursaSelama Perang Iran Masih Berlangsung, Ekonom: Operasi Moneter BI Bakal Sulit Perkuat Rupiah

Selama Perang Iran Masih Berlangsung, Ekonom: Operasi Moneter BI Bakal Sulit Perkuat Rupiah

Iwan Medium.jpeg
Selasa, 10 Maret 2026 - 03:09 WIB
Share
Keputusan Bank Indonesia menahan BI Rate di level 4,75% berdampak kepada penguatan rupiah ke level Rp16.935 per dolar AS pada penutupan Rabu (21/1/2026). (Foto: Antara)

Keputusan Bank Indonesia menahan BI Rate di level 4,75% berdampak kepada penguatan rupiah ke level Rp16.935 per dolar AS pada penutupan Rabu (21/1/2026). (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung
Ukuran Font
KecilBesar

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, nilai tukar (kurs) rupiah berisiko mengalami pelemahan lanjutan. Jika konflik antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel tidak kunjung reda.

Ia menjelaskan, pergantian kepemimpinan di Iran menambah ketidakpastian karena proses suksesi berlangsung di tengah perang. Di mana, elit Iran sedang terbelah, dan figur yang menguat adalah Mojtaba Khamenei yang dekat dengan Garda Revolusi, serta dipandang lebih keras.

“Dalam keadaan seperti ini, pasar cenderung mempertahankan permintaan dolar AS dan mengurangi penempatan dana di negara berkembang, sehingga rupiah sulit pulih cepat,” kata Josua di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Pada Senin, rupiah sempat menyentuh Rp16.990 per dolar AS, ketika harga minyak menembus di atas 100 dolar AS per barel. Langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) cukup penting untuk menahan agar pelemahan rupiah bisa terkendali.

"Akan tetapi itu belum tentu cukup untuk membalikkan arah selama sumber tekanannya tetap berasal dari perang, lonjakan minyak, dan arus modal global," imbuhnya.

Pada Februari 2026, BI menahan suku bunga acuan di level 4,75 persen dengan tujuan untuk penguatan kurs rupiah. Bank sentral juga memperkuat intervensi di pasar dalam negeri dan luar negeri. “Artinya, kebijakan BI saat ini, lebih tepat dibaca sebagai upaya meredam kepanikan dan smoothing pergerakannya, bukan menjamin rupiah segera kembali menguat,” katanya.

Dari sisi cadangan devisa, Josua memandang ruangnya masih memadai untuk digunakan sebagai bantalan. Posisi akhir Februari 2026 sebesar 151,9 miliar dolar AS atau setara 6,1 bulan impor, sehingga BI masih memiliki amunisi untuk menjaga stabilitas pasar.

“Namun penggunaan cadangan devisa perlu tetap terukur, karena fungsinya adalah meredam gejolak dan menjaga kelancaran kebutuhan valuta asing, bukan mempertahankan satu tingkat kurs tertentu terus-menerus ketika tekanan eksternal masih besar,” ujar Josua.

Dengan kata lain, imbuh dia, cadangan devisa masih kuat, tetapi efektivitasnya akan jauh lebih besar bila tekanan geopolitik mulai mereda.

Untuk harga minyak, selama gangguan di Selat Hormuz dan serangan ke fasilitas energi belum mereda, Josua melihat harga minyak sangat mungkin bertahan tinggi di atas 100 dolar AS dan tetap sangat bergejolak. Bahkan pasar sudah sempat menguji kisaran 120 dolar AS.

Ia mengingatkan, dampak perang ini bisa berlangsung berminggu-minggu sampai berbulan-bulan karena pemulihan pengiriman dan produksi tidak bisa instan.

Bagi Indonesia, dampak terhadap inflasi dalam jangka sangat dekat kemungkinan masih agak tertahan karena pemerintah menyatakan akan menambah subsidi energi dan belum berencana menaikkan harga bahan bakar bersubsidi setidaknya sampai Lebaran.

“Namun bila konflik berkepanjangan, tekanan akhirnya akan merambat ke biaya angkutan, logistik, pangan, dan barang impor, sehingga daya beli rumah tangga melemah dan tekanan harga domestik meningkat. Risiko ini perlu diwaspadai karena inflasi Februari 2026 sudah tercatat 4,76 persen,” kata Josua.
 

0 suka
0 bookmark
Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com